Fakta Sepedaan

Februari 28, 2011 by Dian Paramita

Terima kasih atas ngetrendnya dunia persepedaan di Indonesia khususnya Jogjakarta. Saya yang tadinya lupa dengan adanya transportasi bernama sepeda sekarang justru otaknya tentang sepeda melulu dan kakinya gatel pengen nggenjot melulu.

<br>

Pertama kali saya nggenjot sepeda setelah bertahun-tahun tidak pernah nggejot adalah ketika mobil saya mogok padahal harus kuliah jam 7 pagi. Dari sinilah saya menemukan beberapa fakta tentang bersepeda. Saya jadi bangun tidur lebih awal, asyik menyiapkan pakaian yang cocok untuk bersepeda, lalu nggejot ke kampus. Sampai kampus justru kecepetan.  Tidak biasanya saya kecepetan masuk kelas. Saat dosen datang dan mengajar, saya heran, saya tidak ngantuk! Wow wow! Namun sayangnya, walau sepeda membuat saya tidak ngantuk di kelas, tapi sepeda membuat pikiran saya menjadi tidak fokus ke materi kuliah karena terus-menerus memikirkan nggenjot sepeda lagi. Sampai akhirnya kuliah selesai, saya kegirangan, lalu nggejot pulang. Sampai rumah ngos-ngosan sehingga terpaksa tidur. Perlu dicatat, saya juga jadi lupa makan! Bangun tidur kaki gatel lagi pengen nggenjot lagi. Lalu malamnya saya dan pacar nggenjot dari Jalan Kaliurang sampai Malioboro dan pulang hingga pukul 1 malam lalu tertidur pulas. Bisa ditebak besok paginya kaki saya gatel pengen apa? Hehehe.

<br>

Itulah faktanya, sepedaan itu nagih. Bagi yang tidak punya sepeda, jangan pernah mencoba nggenjot, karena jika sudah ketagihan padahal tidak punya sepeda itu akan sangat menyakitkan jiwa dan raga.

Gerakan Agar Sinetron Indonesia Harus Mendidik

Februari 16, 2011 by Dian Paramita

putriyangditukar

Apakah sinetron harus mendidik? Saya tak pernah merasa terdidik saat menonton Opera Van Java atau Ceriwis. Yang saya rasakan hanya terhibur, bisa tertawa, dan meniru cara mereka melucu. Atau tidak sekedar meniru, tapi improve joke-nya.

Oh mungkin inilah yang disebut mendidik. Apa yang kita saksikan dapat menjadi potensi yang positif di kemudian hari. Menonton Sule yang sangat lihai bermain kata lucu di Opera Van Java, membuat kita kreatif karena kita diberi pertunjukkan yang kreatif. Otak kita harus berfikir saat menerima maksud guyonannya lalu di kehidupan kita bisa menirunya untuk menghibur orang lain. Para pelawak lainnya pun merasa harus lebih lucu dari Sule dan mereka berusaha berlatih melucu agar mengalahkannya. Secara tidak langsung Sule telah mendidik kita. Mendidik para penonton maupun saingannya. Begitulah entertainment, memberi contoh yang baik yang bisa kita tiru untuk di kehidupan masyarakat dan bisa menjadi pemicu kualitas entertainer lainnya.

Film Amerikalah yang selama ini paling banyak menghibur sekaligus mendidik saya. Menunjukkan saya betapa sulitnya membuat film, betapa sulitnya membuat cerita, betapa sulitnya berakting, betapa banyaknya sejarah dunia, hingga betapa manusia memiliki banyak karakter yang akan kita temui seumur hidup. Film Amerika secara tidak langsung mendidik para penonton dan para pembuat film lainnya.

Lalu bagaimana dengan sinetron Indonesia? Seperti yang diceritakan kakak saya, Mas Herman, dalam sinetron Putri Yang Ditukar, adegan-adegannya sungguh tidak masuk akal dan tidak mendidik. Adegan menyelamatkan diri dari api terlalu mengada-ada. Apakah bisa ditiru di kehidupan nyata? Tidak hanya itu, apakah produksi sinetron ini telah memanfaatkan kreatifitas anak bangsa? Tidak. Apakah ada perkembangan yang signifikan dalam memperbaiki kualitas sinetron? Tidak. Tayangan sinetron Indonesia tidak berkembang. Karena sudah dianggap memuaskan konsumen Indonesia, lalu stagnan disitu saja. Tidak diperbarui, tidak menambah kualitas, tidak membuat para produsen sinetron berkompetisi untuk membuat yang berkualitas dan menakjubkan. Otak penonton dan pembuat sinetron menjadi seperti sinetronnya, stagnan tak berkualitas.

Maka ya, sinetron kita tidak mendidik penonton maupun pembuatnya. Tidak memberi contoh yang bermutu dalam kehidupan masyarakat dan tidak memberi efek kompetisi yang berkualitas di kalangan pembuat sinetron.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Ada protes yang dilakukan oleh seseorang yang misterius. Protes ini menarik dan kritis. Kita diajak untuk mengumpulkan koin untuk menyumbang para pemain sinetron Indonesia agar tidak membintangi acara tidak bermutu dan berkualitas seperti Putri Yang Ditukar, Cinta Fitri, dan sebagainya. Mari bergabung di Gerakan Koin untuk Artis Putri Yang Ditukar. Hingga saat ini sudah ada 1,339 member yang turut mendukung. Semoga kemuakkan kita bisa membuat mereka berfikir dua kali dalam memproduksi tayangan tidak mendidik.

Baca juga:

  1. Absurditas di Putri yang Ditukar – Nonadita
  2. Gerakan Koin untuk Sinetron Putri yang Ditukar – Herman Saksono
  3. Masih Mau Nonton Sinetron? – Leksa
  4. Belajar dari Nodame – Suprie
  5. Kualitas Buruk yang Terus Dipertahankan – Aankun
  6. Homo Sinetronosus – Pak Guru
  7. #41: Sinetron – Masova
  8. Ikutan Membahas Sinetron – Adhi Pras
  9. Sinetron Indonesia Miskin Cerita – Fudu
  10. Menalar (Polemik) Sinetron – Gentole
  11. Balada Argumentasi Sinetron yang Tertukar-tukar – Amed
  12. Putri yang Ditukar – Mamski
  13. Pilih Sinetron atau si Bolang? – Memethmeong
  14. Jangan Tukar Isu Putri Yang Ditukar – Nonadita
  15. Putri yang Ditukar – Wikipedia (coba baca deh plot awalnya, harusnya Ikhsan meninggal)
  16. Yang Putri Yang Ditukar – Choro
  17. Barang Yang Sudah Terlanjur Dibeli Tidak Dapat Ditukarkan – Joesatch
  18. Masygul – Aris

Belajar Darinya

Februari 14, 2011 by Dian Paramita

Saat kita harus memilih, dia selalu percaya dan menyukai pilihanku.

Saat berbagi makanan, dia selalu memberikan bagianku lebih banyak dari bagiannya.

Saat aku termenung berfikir sesuatu, dia selalu khawatir dan bertanya, “kenapa, sayang?”

Saat aku kesulitan –entah hanya kesulitan membuka tutup botol- dia tau dan langsung meraih botol itu untuk membukakannya untukku.

Saat aku sibuk bersenang-senang dengan pekerjaan atau teman-temanku, dia bangga dan tak pernah mengganggu kesenanganku.

Saat aku dihimpit deadline dan tugas, dia datang membawakan sebuah buku catatan. Katanya untuk mencatat deadline, jadwal, dan tugasku agar tidak ada yang terlupakan.

Saat semua orang seperti bosan dengan cerita-ceritaku, dia masih saja mendengarkan dengan antusias.

Saat dia hendak memilih jalan hidupnya, dia selalu memikirkan dampaknya padaku. Dia takut aku sedih dan kecewa.

Saat dia berkata tidak, aku akan kaget, dia nyaris tidak pernah berkata “tidak” kepadaku.

Saat dia membuat kesalahan, dia sangat bersalah, bertahun-tahun meminta maaf, bertahun-tahun berusaha agar aku melupakannya, bertahun-tahun itulah dia tidak mengulanginya lagi.

Itulah dia. Selalu ada membantuku, menemaniku, dan menjaga hatiku. Aku harus belajar darinya. Kita semua harus belajar darinya, menjadi seorang penyayang yang tulus.

Tuhan, betapa beruntungnya aku :’)