Timeline Kasus Pembasmian Anjing Palembang untuk Sea Games XXVI

Sumatera Ekspres, 19 Oktober 2011

Berikut timeline kejadian pembasmian anjing di Palembang dengan racun oleh pemerintah Palembang atas alasan rabies dan Sea Games XXVI. Disini lebih banyak menuliskan bagaimana Fauna Welfare memperjuangkan para anjing Palembang, dealing dengan pemerintah sana, dan beberapa berita terpercaya dari Sumatera Ekspres, Sriwijaya Pos, Detik, hingga Kompas. Maksud penulisan timeline di bawah ini untuk menunjukkan bahwa berita ini benar, bukan hoax, berita ini bukan untuk menghina masyarakat Palembang, atau bahkan untuk menggagalkan Sea Games. Berita ini hanya untuk menggagalkan rencana pemerintah Palembang untuk membasmi anjing liar-terlantar dengan racun.

Senin, 24 Oktober 2011

  • Ketua Fauna Welfare, Dina Artha, mendapat kabar dari teman-temannya dari Palembang Sahabat Satwa, bahwa terjadi pembunuhan anjing liar dengan menyebarkan daging beracun di Pagaralam. Pembunuhan anjing liar ini terjadi akibat over populasi dan memberantas rabies dijadikan sebagai alasan.
  • Mbak Artha mencari berita ini di Google dan benar, sejak April 2010 sudah mulai diberitakan di surat kabar lokal menyebutkan, untuk menyambut Sea Games 2011, Sumatera Selatan bebas rabies.
  • Berita terbaru didapatkan dari Sumatera Ekspres tanggal 19 Oktober 2011 bahwa memang terjadi pembunuhan anjing yang berkeliaran di Pagaralam, Sumatera Selatan dengan menyebarkan daging beracun. Selain untuk mengurangi populasi anjing dan antisipasi kemungkinannya menularkan kepada manusia, pembunuhan anjing liar ini juga untuk menyambut Sea Games XXVI.
  • Hal ini dibenarkan oleh Kepala Dinas Perternakan dan Perikanan Kota Pagaralam, drh Syukri MSc. ”Kegiatan ini juga dalam rangka mendukung dan menyukseskan event Sea Games yang tinggal beberapa minggu ini,” katanya seperti yang dikutip di koran tersebut.
  • Setelah membaca berita itu, Mbak Artha baru yakin bahwa ini bukan isu melainkan fakta karena sudah dibenarkan oleh Kadisnak Pagaralam di media terpercaya. Lalu ia membuat Facebook group “Boycott SEA GAMES 26th Indonesian Dogs and Cats Murder” dan mulai share beberapa photo pembasmian anjing yang terjadi di Pagaralam.

Selasa, 25 Oktober 2011

  • Mbak Artha langsung pergi ke Palembang untuk melihat sendiri keadaan disana bersama ketiga orang temannya yang bernama drh. Arsentina Panggabean (penasehat Yayasan FaunaWelfare & ketua PDHI DKI Jakarta), drh. Nyomie (penanggung jawab Fauna Welfare), dan drh. Amir Mahmud (ketua Bidang Litbang PDHI DKI Jakarta).
  • Mbak Artha kesana untuk menangkap, vaksin, dan steril para anjing sebelum diracun pemerintah sana, lalu membawanya ke shelter yang sebenarnya sebuah rumah yang ia sewa di Palembang.
  • Berita ini menjadi panas di Twitter. Banyak yang menyesalkan dan marah menanggapi tindakan pemerintah ini. Ada yang turut menyumbangkan dana ke Fauna Welfate untuk biaya menyewa rumah shelter, obat-obatan, makanan anjing, kadang dll. Ada juga yang menghubungi saya menanyakan bagaimana caranya agar bisa ikut menjadi relawan Fauna Welfare di Palembang sana. Bahkan Jerinx dari Superman is Dead langsung menghubungi saya untuk konfirmasi kejadian ini dan bersama teman-teman musisinya berencana membuat konser amal “In Dog We Trust” di Bali, esok harinya.
  • Berbagai tweet, retweet, dan hashtag negatif yang berhubungan dengan pembantaian anjing Palembang dan Sea Games terus muncul di timeline Twitter. Salah satunya hashtag #StopKillingDogsForSeaGames
  • Tetapi tidak sedikit yang marah karena merasa ini hanya isu yang ingin menjatuhkan Sea Games Indonesia, alias hoax. Ada yang mengatakan Pagaralam itu jauh dari Palembang dan tidak dipakai untuk lokasi Sea Games. Ada yang juga mengatakan bahwa di Palembang jarang ada anjing liar. “Emangnya kamu di lapangan dan melihat sendiri? Kalo ngomongin Palembang, lihat dulu dong keadaan disini!” kata salah beberapa follower saya yang menyangsikan berita ini.

Pertama, ini bukan isu, karena sudah menjadi berita resmi yang bisa dipertanggung-jawabkan oleh media Sumatera Ekspres tanggal 19 Oktober 2011. Dalam berita media tersebut, Kepala Disnakan, Syukri, sendiri mengatakan bahwa pembasmian anjing di Pagaralam ini untuk Sea Games. Bahkan setelah berita ini menjadi panas di Twitter, Kompas pun mengeluarkan berita yang serupa, “Sukseskan Sea Games, Anjing Liar Dibasmi.” Dalam berita tersebut, Kepala Dinas Perternakan dan Perikanan Sumatera Selatan, Ir Asrillazi Bin HM Rasyid (kita sebut saja Pak Asri) membenarkan bahwa pembasmian anjing di salah satu lokasi dilaksanakannya Sea Games, Jakabaring, ini juga untuk menyukseskan Sea Games.

Kedua, Mbak Artha datang ke Palembang dan melihat sendiri. “Siapa bilang di Palembang jarang ada anjing liar? Saya disini dan melihat sendiri, banyak anjing terlantar, bukan liar, yang baru keluar setelah tengah malam. Mereka berada di daerah pasar, timbunan sampah, untuk mencari makanan.” katanya di telepon kepada saya. Mbak Artha pun lalu merawat para anjing-anjing liar tersebut di shelter-nya untuk disterilkan lalu divaksin.

  • Ada teman BBM saya mengatakan bahwa ia kenal panitia Sea Games, mereka bilang tidak tau menahu soal ide pembantaian anjing Palembang untuk Sea Games ini. Mereka justru sedang mengusahakan sekuat tenaga untuk menyukseskan Sea Games namun bukan dengan pembantaian anjing. Sayang sekali, pernyataan ini hanya dari mulut ke mulut. Bukan pernyataan di media yang bisa dipertanggung-jawabkan. Saya menyarankan mereka membuat pernyataan di media bahwa panitia Sea Games tidak pernah berencana membasmi anjing untuk acara tersebut. Namun sayang, katanya ada banyak sekali tugas yang harus dilaksanakan. Mereka tidak ada waktu menanggapi berita ini.
  • Hashtag negatif tentang pembantian anjing dan hubungannya dengan Sea Games terus muncul.

Selasa sore, 25 Oktober 2011.

  • Mbak Artha datang menemui Kepala Dinas Pertenakan dan Perikanan Sumatera Selatan (Kadisnak), Asrillazi Rasyid. Awalnya beliau tidak mau menemui Mbak Artha padahal terlihat mobilnya di parkiran. Namun akhirnya beliau bersedia menemui, setelah Mbak Artha menawarkan bantuan relawan untuk menangkapi anjing, memberikan vaksin dan steril, asalkan rencana peracunan anjing liar dibatalkan. Perlu diketahui, tidak semua anjing terlantar di jalanan terkena rabies, maka tidak harus dibunuh. Yang terkena rabies, harus diobservasi agar dipastikan memang rabies. Para anjing terlantar hanya perlu ditangkap (trap), divaksin (vaccine), disterilkan (neutered), lalu baru dilepaskan (release) atau ditangkar untuk dilakukan proses adopsi.

Dalam pertemuan ini,  sebagai Kadisnak, Pak Asri menyatakan keprihatinannya atas terjadinya kegiatan pembasmian anjing di wilayah kotamadya atau kabupaten. Hal tersebut terjadi akibat kurangnya informasi atas penanggulangan rabies dan kurangnya koordinasi antar dinas. Beliau berjanji melakukan pembenahan dan rekoordinasi antar dinas untuk menghentikan aksi pembantaian. Tetapi beliau sendiri menyatakan tidak pernah memberikan perintah untuk eliminasi tersebut. Dirinya mengaku kaget sekali ketika ditanya oleh Menpora perihal adanya penyebaran photo mayat anjing mati berjejer di bumi Sriwijaya. Sepenuhnya dinas akan membantu untuk melakukan program vaksinasi, sterilisasi, bersama dengan Fauna Welfare dan masyarakat. Setelah diskusi panjang ini,  Pak Asri akhirnya setuju membatalkan pembasmian anjing disana dengan syarat dibantu Fauna Welfare.

Yang lucu di kejadian ini dan tidak banyak diketahui publik adalah setelah diskusi panjang tersebut, keluarlah berita dari Detik,“Jelang Sea Games, Tidak Ada Pembantaian Anjing Liar di Palembang.” Menurut Mbak Artha, berita itu ngawur. Pertama, ia melihat sendiri di Palembang banyak anjing liar. Kedua, dalam berita tersebut Pemda menyangkal adanya rencana pembasmian anjing. Mbak Artha yakin, pernyataan Pemda tersebut baru ada setelah berdiskusi dengan Fauna Welfare, yang artinya awalnya Pemda berencana membasmi anjing liar namun karena permohonan Fauna Welfare, mereka baru bersedia mengatasinya dengan cara yang lebih baik. Mbak Artha menyayangkan media Detik yang hanya membuat berita dari satu sudut pandang saja.

Namun yang paling lucu saya temukan adalah pernyataan Kadisnak Pak Asri yang mengatakan kaget saat ditelpon Menpora tentang adanya berita pembasmian anjing dan pernyataan beliau kepada relawan kesejahteraan satwa, Drh Amir Mahmud, yang membantah melakukan eliminasi anjing, seperti yang dikutip Kompas (27/10) “Jaminan Tak Eliminasi Anjing Disambut Gembira.” Padahal, di berita Kompas sebelumnya Pak Asri sendiri yang membenarkan berita adanya pembasmian anjing liar ini, beliaupun yang menyatakan kegiatan ini untuk Sea Games. “Pembasmian anjing liar dilakukan karena anjing liar dikhawatirkan menggigit manusia di sekitar kawasan Jakabaring yang akan dihadiri ribuan tamu asing itu. Kami akan menggunakan makanan yang telah dibubuhi racun untuk membasmi anjing-anjing liar ini,” kata Kadisnak Pak Asri di Kompas (25/10). Tanggal 25 Oktober 2011 mengatakan memang benar akan meracuni anjing liar untuk mengurangi rabies dan menyambut Sea Games, lalu 2 hari kemudian, tanggal 27 Oktober 2011, Pak Asri justru mengaku kaget saat ditelpon Menpora tentang rencana pembasmian anjing dan membantah adanya rencana ini. Hanya dalam 2 hari Pak Asri bisa membuat pernyataan yang bertolak belakang! Memalukan!

Selasa tengah malam, 25 Oktober 2011.

  • Mbak Artha dan kedua temannya menyusuri Kota Palembang hingga ke pasar kota. Ia menemui banyak anjing liar disana yang hanya keluar saat tengah malam saja. Ia makin kesal jika ada yang mengatakan Palembang tidak ada anjing liar, padahal ia melihat dan menangkap sendiri ada banyak anjing liar di kota itu. Hingga subuh kami BBM-an, lalu Mbak Artha bilang, “3.25 AM off now. 2.35 more minutes left time to sleep. Need to achieve a big goal today. Meeting someone who should be important in this case! Let’s work it all out together and pray!

Rabu, 26 Oktober 2011.

  • Konser “In Dog We Trust” yang diselenggarakan Jerinx SID di Bali digelar dan berhasil menggalang dana sekitar 1 juta rupiah untuk disumbangkan kepada Fauna Welfare.
  • Mbak Artha mendapat kabar bahwa dalam launching perangko Sea Games XXVI, Gubernur Sumatera Selatan menyatakan tidak akan ada rencana pembasmian anjing Palembang.  Mbak Artha langsung mengabari saya tentang berita ini.  Kita semua senang, tidak akan ada pembasmian anjing Palembang.
  • Berita pembatalan ini masuk Kompas. Bahkan ada wawancara dengan Mbak Artha di dalam berita itu. Bisa dibaca disini.

Jum’at, 28 Oktober 2011.

  • Banyak mention yang menyalahkan @faunawelfare  perihal website saveindonesiandogs.com karena terlalu lebay. Namun dalam tweetnya, Fauna Welfare menyatakan itu bukan websitenya dan mereka tidak pernah berhubungan dengan pemilik web itu. Website itu hanya mengambil foto milik Fauna Welfare tanpa konfirmasi dan tanpa menyertakan link asal photo.
  • Mbak Artha mengabari saya, ada berita menyesakan dari Sriwijaya Pos, “Pol PP Bergadang Selama Sea Games Tangkap dan Racuni Anjing Liar.” Berita ini bertolak belakang dengan pernyataan Gubernur Sumsel dan Pak Asri sebagai Kadisnak, yang berjanji tidak akan ada pembantaian anjing liar di wilayah itu. Lalu mana janjimu? Kenapa berita terakhir bertolak belakang dengan janjimu?
  • Di Kompas, Mbak Artha diwawancara kembali mengenai kekecewaannya terhadap pemerintah Palembang yang dirasa ingkar janji. Berita bisa dibawa disini.

Sabtu, 29 Oktober 2011.

  • Display picture BBM Mbak Artha berubah menjadi foto anak anjing yang sekarat. Ia menemukannya di Jakabaring, Palembang, dalam keadaan penis keluar, mata keluar, gelembung di mulut, badan kejang menarik ke arah luar. Dipertanyakan apakah itu akibat racun?
  • Banyak sekali mention yang mengatakan cerita dari Fauna Welfare ini hoax.  Kalo hoax, mengapa masuk media Sumatera Ekspres, Sriwijaya Pos, hingga Kompas? Ada juga yang mengatakan, “kalian udah ke Palembang belum? Kalo belum ke Palembang jangan asal ngomong.” Mbak Artha tentu geram membaca komen ini. Ia BBM saya dan bilang, “turun kesini lah dan liat kondisi. Disini (Palembang) tidak punya shelter. Kami lobby sampai minta dinas kalo memang mereka tidak punya shelter dan sudah menangkap anjing, Fauna Welfare bersedia menjemput anjing-anjing itu lalu mereka klaim sebagai anjing milik Fauna Welfare untuk dirawat di shelter mili Fauna Welfare.” Kok bisa orang Palembang tidak tau keadaan Palembang?
  • Ada teman lain lagi BBM saya memberi tahu bahwa pantia Sea Games tidak pernah memerintahkan kegiatan ini. Namun pernyataan di media harus dibalas dengan pernyataan di media pula. Kalo cuma dari mulut ke mulut, tentu bisa saja dikatakan gosip. Lagi-lagi alasan sibuk, panitia Sea Games tidak sempat membuat pernyataan di media perihal pembantahan ide pembasmian anjing.
  • Mbak Artha mulai mengeluhkan banyaknya orang yang mengambil gambar Fauna Welfare namun memakainya secara tidak bertanggung-jawab yang membuat Fauna Welfare harus repot mengklarifikasi. Ia juga tidak habis pikir dengan banyaknya orang yang justru tambah merepotkan kerja tim Fauna Welfare. Ada yang meminta perincian laporan keuangan, padahal Mbak Artha sendiri masih sibuk mengurusi pembatalan pembasmian dan mengurusi penangkapan anjing untuk dibawa ke shelternya. Logikanya ia belum sempat mengurusi hal seperti laporan keuangan. Di telpon Mbak Artha bilang kepada saya bahwa Fauna Welfare selalu membuat laporan keuangan di akhir bulan. Tidak bisa ia selalu melaporkannya setiap saat. Jadi mohon pengertiannya.

Senin, 31 Oktober 2011.

  • Laporan keuangan Fauna Welfare sementara sudah dipublikasikan di Facebook group mereka. Dan karena Fauna Welfare membantu menggalang dana untuk stray Palembang, sudah tersedia rumah sewa dan beberapa fasilitas pendukung. Maka mulai 1 november 2011 dana untuk kelangsungan hidup stray Palembang oleh PSS akan diteruskan melalui rekening bank teman-teman PSS.

Selasa, 1 November 2011.

  • Melalui email, Mbak Artha mengabari saya, sementara ini Fauna Welfate tetap melakukan kegiatan untuk membantu stray Palembang, melakukan program vaksin dan steril massal serta penggalangan dana untuk program-program tersebut.

Terima kasih banyak Fauna Welfare. Kami terus mendukung aksimu untuk para binatang. Sebisa mungkin saya terus update kasus ini. Terima kasih juga kepada seluruh teman-teman yang turut mengikuti dan menyebarkan informasi ini, mendukung aksi kami, serta turut menyumbangkan dana bahkan menjadi relawan untuk membantu aksi Fauna Welfare. Bersama-sama kita sudah menciptakan perubahan.

39 Responses to “Timeline Kasus Pembasmian Anjing Palembang untuk Sea Games XXVI”

  • borsalino:

    mmhhhh …
    yg dibantai adalah anjing liar di Pagaralam dg jauh perjalanan lebih kurang 7-8 jam dari Palembang. si mba Artha .. menyusuri kota Palembang.

    berita di detik harusnya benar. karena memang yang terjadi “pembantaian” anjing liar itu di pagaralam dan bukan di palembang.

  • susi:

    ini yang dibahas anjing yang ada di Pagaralam apa di Palembang ya ? ibu artha ke Palembang ya ? kenapa tidak sekalian ke Pagaralam saja ? kan yg dibantai adalah anjing liar bukan anjing terlantar ?
    trus anjing yg sudah divaksin itu mengapa dibebaskan lagi ? bukankah nanti akan mencelakakan orang lain ? mengapa tidak dipelihara saja ?

    • Dian Paramita:

      1. Mbak Artha tidak ke Pagaralam karena pembantaian sudah terjadi lalu ada berita rencana pembantaian di Palembang, sehingga Mbak Artha ke Palembang. Mbak Susi membaca tulisan di atas dari awal hingga akhir tidak ya? Kan sudah jelas tertulis disana.

      2. Mbak Artha tidak mau menyebut anjing-anjing di jalanan itu anjing liar. Ia menanggap anjing-anjing di jalanan itu anjing terlantar. Tapi media dan pemerintah menyebutnya anjing liar.

      3. Proses vaksin dan steril sudah membuat anjing rabies sembuh dan tidak membahayakan lagi untuk dilepaskan ke jalanan. Tidak merawat karena kekurangan dana jika harus mengurusi semua anjing yang sudah sembuh. Jika tidak ada yang mau mengadosi, terpaksa dilepaskan, lalu menangkap lagi anjing liar/terlantar disana untuk divaksin dan disterilkan.

  • ian:

    yang jadi permasalahan adalah kejadian eliminasi anjing itu terjadi di pagaralam yang notabene berjarak cukup jauh dari Palembang (sekitar 7 jam), tetapi team penyelamatan bergerak hanya di seputar palembang. Tentu titik masalahnya menjadi tidak bertemu. Kalau bicara soal anjing terlantar, saya pikir bukan hanya di palembang saja yang bisa kita temui. Di semua kota pun pasti bisa kita temui anjing terlantar. Saya tidak menyalahkan team pelindung satwa / pecinta anjing yang marah atas berita ini tapi saya juga bisa memahami kegusaran masyarakat Palembang atas berita-berita yang akhirnya terkesan memojokkan. Bahkan sampai ada ancaman boikot Sea Games segala. Padahal tidak sedikit persiapan yang sudah mereka lakukan untuk menyambut perhelatan akbar tsb.

  • Dian Paramita:

    1. Salahkan pemerintah daerah Anda jika berita ini menjadi berita yang terkesan memojokkan Palembang. Mereka sendiri kok yang bilang kalau pembantaian anjing terjadi di Palembang untuk rabies dan menyambut Sea Games. Tulisan di atas dibaca nggak sih? Ini para komen kelihatan sekali tidak membaca dari awal hingga akhir, hanya asal komen.

    2. Yang masuk berita sekarang adalah di Kota Palembang. Kenapa harus membandingkan dengan kota lain? Disini pemerintah Palembang sedang membantai anjing untuk Sea Games. Kalau ada kota lain yang membantai anjing ya akan kami permasalahkan juga. Sama aja. Namun sekarang yang sedang diberitakan Palembang.

    3. Kegusaran masyarakat tidak bisa menjadi alasan untuk membunuhi para anjing liar yang belum tentu terkena rabies. Ada cara yang lebih baik dalam mengatasi anjing rabies tanpa membunuh, yaitu tangkap, vaksin, steril. Jika pemerintah memukul rata bahwa anjing-anjing di jalanan Palembang semua rabies, lalu membunuhnya dengan racun, ini terlihat sekali bahwa mereka hanya mencari jalan cepat yang malas.

    4. Jangan melihat ini sebagai aksi memojokkan Palembang atau acara Sea Games. Lihat berita ini dari sudut pandang yang luas. Ini adalah protes terhadap pemerintah karena ceroboh menanggulangi masalah di daerahnya.

    • ian:

      maaf saya bukan orang palembang, tapi orang Jakarta. saya kan sudah bilang. saya tidak menyalahkan siapapun atas kasus ini. saya mengajak berpikir dengan logika yah. Kalau ada kasus eliminasi anjing di Rawamangun sementara team penyelamat melakukan penyelamatan di daerah Depok. Apakah masalahnya selesai ? tidak kan ? Nah yang saya tegaskan disini yah seperti itu. Kalau kasus eliminasi anjing nya di Pagaralam, yah team penyelamat bergeraklah ke Pagaralam. Bukan di Palembang… seperti itu loh maksud saya.

      • MDiana:

        berpikir logika donk, selamat kan yang masih HIDUP.. kok susah yah ngertinya.

        • ian:

          mengerti sekali.. Sependapat dengan penyataan selamatkan yang HIDUP.. Lalu apa di Pagaralam sudah diputuskan semua anjing terlantar telah tereliminasi ? yang ingin saya dan banyak orang tahu justru kondisi terkini disana. Masihkah eliminasi berlangsung ? apakah tidak ada yang selamat sama sekali, atau tidak adakah yang bisa diselamatkan sama sekali disana ? Karena beritanya kan berasal dari sana.

      • Dian Paramita:

        Walah. Keliatan kan Masnya ga membaca semua tulisan saya, dari awal sampai akhir. :)

        Saya sudah menuliskan di atas, kok ya masih harus menjelaskan di komen seperti ini. Kan Mbak Dina Artha dari Fauna welfare ke Palembang karena ada berita eliminasi anjing disana. Maka mereka kesana sebelum para anjing di Palembang diracuni. Yang di Pagaralam itu udah dibunuh. Jadi tidak ada gunanya mereka kesana. Jadi benar, selamatkan yang masih hidup. Yang masih hidup itu di Palembang, bukan Pagaralam. Mbok dibaca semua toh Mas tulisan saya… Biar kita tidak harus menjelaskan satu persatu.

  • gono_uputuu:

    1.Kami dukung aksi Fauna Welfare. Tetap semangat
    2.Kelihatan yg komentar diatas tidak menyukai adanya keberadaan anjing dimanapun.

    • Dian Paramita:

      Terima kasih banyak atas dukungannya. Kita maju terus tanpa peduli komen miring yang tidak paham inti masalahnya. :)

  • ian:

    dian, saya sangat mengerti kegusaran kamu. saya pun juga punya hewan peliharaan di rumah. Sayapun tidak mau hewan peliharaan saya mengalami nasib seperti itu. Saya juga memahami maksud kamu sama sekali ngga memojokkan. kamu jangan salah sangka dengan pernyataan saya. saya ngga menyalahkan siapapun disini. karena saya tidak mencari musuh dengan siapapun. tks :)

    • Dian Paramita:

      Terima kasih. Saya hanya menyayangkan komen Anda yang terlihat tidak membaca semua tulisan saya dari awal hingga akhir. Semua pertanyaan Anda itu sudah ditulis. Besok lagi dibaca semua dulu, baru komen. :)

  • Terima kasih utk mbak Dian Paramita utk tulisannya yang keren ini. Saya minta izin utk share tulisan ini serta menjadikan artikel ini sebagai sumber2 yang saya butuhkan utk tulisan saya ke depannya. Terima Kasih

  • oh ya, saya juga minta tolong ya mbak, dipublikasikan bahwa website http://saveindonesiadogs.weebly.com/save-palembang-dogs-from-mass-murder.html memang bukan milik FaunaWelfare. Itu milik para rescuer yang berinisiatif utk membantu melalui petisi dan upaya lainnya yang terkait secara online, bukan praktikal. Terima kasih ya

    • Dian Paramita:

      1. Terima kasihhh, Mbak Kailey. Iya pakai saja untuk tulisan Mbak ke depannya. Dengan senang hati :)

      2. Iya terima kasih Mbak karena sudah membuat website itu dengan niat tulus untuk memperjuangkan anjing Indonesia. Saya tidak mempermasalahkan isinya. Saya hanya mengutarakan apa yang dikatakan followers saya di Twitter dan apa yang dikatakan Mbak Arth sebagai ketua Fauna Welfare. Tapi sekali lagi, justru saya berterima kasih kepada Mbak Kailey dkk, karena telah membuat website itu untuk tujuan yang mulia, memperjuangkan anjing Indonesia.

      Btw, salam kenal :)

  • nay:

    setelah baca time line yang mb Dian buat..sy jadi ngerti..sy seorang pecinta anjing..makanya saya marah dan sangat kecewa dgn kebijakan yang diambil pemerintah Palembang secara umum dan Pagalaram secara khusus..apalagi perkataan dan pelaksanaan berbeda..sy juga sangat setuju dengan apa yg dilakukan oleh mb artha, yang mencoba menyelamatkan anjing2 terlantar di Kota Palembang..tetap semangat yaa mba2 semua..GBu all..

    P.S: sy ijin share ya mba..thx b4..:)

  • el ascanio:

    lho…… kapan2 fauna welfare pnya shelter di palembang? yg saya tw,shelter itu berdiri atas donasi untuk straydog palembang melalui Palembang Sahabat Satwa. dan sifatnya urgensi untuk pendirian shelter demi mengurangi korban eliminasi. yang di peecayakan oleh palembang sahabat satwa penyalurannya via fauna welfare. dan setau saya fauna welfare datang ke palembang,tidak pernah menangkap anjing liar. ada pun saat sterilisasi,semua adalah anjing2 hasil tangkapan palembang sahabat satwa sebelumnya. perlu klarifikasi,hingga saat ini,shelter d palembang hanya ada satu! bukan beberapa seperti keterangan fauna welfare. dan sistem yg di gunakan,bukan pelepasan kembali,tetapi relokasi ke tempat yang akan memudahkan pengontrolannya.

  • el ascanio:

    mana nih reply nya? g bs reply y? atw g bs keterangan palsu lagi? maka nya!! kl mw posting berita,jgn ambil cm satu sumber… dasar dodol!!!

    • 1. Emangnya hidup saya 24 jam di depan komputer, mantengin semua komen yang masuk dan harus langsung bales? Emangnya saya pengangguran? Maaf ya, saya bukan pengangguran yang kurang kerjaan.

      2. Lihat tuh beberapa komen yang saya bales. Ada beberapa yang dibalas sehari kemudian. Itu namanya pas saya sempat, saya balas. Kalo belum sempat ya belum saya balas. Bukan ga bisa reply seperti kata Anda.

      3. Sebelum menjawab pertanyaan, saya juga perlu data. Tidak bisa asal ngomong dari sudut pandang saya sendiri. Tulisan saya di atas dari 2 sudut pandang, Artha dari Fauna Welfare dan 3 media
      terpercaya. Sekarang saya harus kroscek ke Artha dulu. Dan itu butuh waktu. Ga bisa asal bales komen Anda seenak saya sendiri.

      3. Ini jawaban dari Mbak Artha Fauna Welfare. Baca baik-baik dari awal hingga akhir:
      Sejak Fauna Welfare mulai membuat campaign stray dogs di BBM, FB, Twitter, baru donasi masuk ke Fauna Welfare untuk strays. Donasi yang masuk bukan untuk Palembang Sahabat Satwa or who ever yang mau claim. Donasi terkumpul 67juta dari donatur setia maupun donatur baru. Tetapi ketika Palembang Sahabat Satwa minta bantuan, siapa yang langsung menanggapi kalo bukan Fauna Welfare? Kalo memang mampu bertindak tanpa dibantu Fauna Welfare, seharusnya dari awal tidak usah koar-koar minta bantuan.:)

      Fauna Welfare membantu stray dogs & cats Palembang tidak hanya dengan mengumpulkan donasi, tetapi juga melakukan negosiasi dengan pemerintah (seperti yang ditulis di atas), publikasi, menyewa rumah shelter, hingga membeli fasilitas shelter. Semuanya dari donasi yang dikumpulkan oleh Fauna Welfare melalui network-network donatur dan publikasi oleh networknya.

      Sebagian donasi telah diberikan kepada yang mengaku mampu mengerjakan aksi penyelamatan. Tetapi kanyataan di lapangan, relawan Palembang sangat minim pengetahuan, ketrampilan, dan sangat lambat. Bahkan untuk sekedar membeli alat-alat penangkapan dan memanggil tukang perbaikan fasilitas rumah shelter. 2 kebutuhan ini baru terlaksanakan saat Fauna Welfare sudah di lapangan, yang mana seharusnya bisa dilakukan sebelum Fauna Welfare datang.

      Masalah penangkapan, malam pertama tidak berhasil karena relawan Palembang tidak mengadakan alat-alat tangkap yang memadai. Ada alat penangkap dari kawat yang dipinjami dari Disnakan, tetapi mereka tidak tau cara pakainya, membuat para anjing kabur duluan. Drh. Arsentina, Drh. Nyomie, Drh. Amir, Pak Kailani (sopir mobil sewaan mobil, bisa dikonfirmasi tentang bagaimana relawan Palembang tidak terampil menangkapi anjing. Drh. Arsentina, ketua PDHI DKI Jakarta, dulunya juga Kepala Disnakan Jakarta Utara, yang sudah sangat berpengalaman, sangat geram melihat cara kerja relawan Palembang.

      Para donatur Fauna Welfare pun sudah melihat sendiri ketidakterampilan relawan Palembang. Maka dari itu lebih dipercayakan kepada pihak-pihak lain yang dapat membantu langsung di lapangan, seperti Tim Pejaten Shelter dan dokter hewan disana.

      Setelah itu, malam berikutnya Fauna Welfare menyusun proposal untuk diserahkan kepada Disnakan. Fauna Welfare pun bekerja menemui Gubernur, Walikota, dan Kepala Disnakan. Fauna Welfare memerintahkan para relawan Palembang untuk membeli alat-alat yang diperlukan, tapi belum juga ada malam itu.

      Bisa dilihat, para donatur mempercayakan sumbangannya kepada Fauna Welfare, bukan Palembang Sahabat Satwa atau organisasi hewan lainnya disana. Semua sumbangan sebesar 67 juta, yang masuk tulisnya untuk strays, tidak ada satu pun tertulis untuk Palembang Sahabat Satwa. Yang dikenal media dan Disnakan pun juga bukan Palembang Sahabat Satwa. Yang masuk di berita dan berkomunikasi dengan WSPA, BAWA, PDHI, Menpora, Gubernur Sumsek, Walikota Palembang, Kepala Disnakan Sumsel, adalah Fauna Welfare bukan Palembang Sahabat Satwa. Mana yang lebih terpercaya? Pikir sendiri.

      Karena itu, pembiayaan lanjutan dikirim FW kepada Pejaten Shelter untuk mengirimkan tenaga terampil penangkapan dan agar dapat memberikan training kepada relawan di Palembang. Donasi juga untuk pembelian vaksin dan obat yang telah dikomunikasikan langsung dengan dokter hewan di Palembang agar dapat memulai vaksinasi dan sterilisasi cicilan.

      Saat ini Fauna Welfare tetap menjalin hubungan dengan Disnakan. Fauna Welfare juga telah bekerjasama dengan BAWA, API, PDHI, untuk melakukan sosialisasi, vaksinasi, dan sterilisasi. Aksi ini baru bisa dilaksanakan setelah Fauna Welfare mendapatkan persetujuan tertulis dari Disnakan untuk menghentikan eliminasi dan memberikan vaksin rabies.

      Mari berdoa agar relawan Palembang dapat segera menjadi trampil dalam berbagai aspek: pengetahuan, komunikasi, ketangkasan, ketanggapan, dan kemandirian, sehingga ke depannya nasib stray dogs & cats dapat lebih baik.

      - Sekali lagi, di atas adalah jawaban Mbak Artha dari Fauna Welfare.

      4. Anda menyuruh saya untuk tidak posting berita dari satu sumber saja? Semua orang yang baca dari awal hingga akhir juga tau kalo tulisan saya di atas tidak dari 1 sumber. Malah dari berbagai sumber, yaitu Sumatera Ekspres, Sriwijaya Pos, Detik, hingga Kompas. 4 media yang bisa dipertanggung jawabkan. Tapi kalo dibaca lagi, bukannya Anda sendiri ya yang nulis dari 1 sumber doang? Kalo saya jadi Anda malu sekali.

      5. Tulis nama asli dan link web Anda dong di komen ini. Jangan jadi pecundang yang malu menulis nama asli dan membuka identitas diri. :)

  • Kenapa ribut vaksinasinya kok pas Seagames ya, nggak dari dulu-dulu. Emang dulu ngapain aja sih? Oiya, mau tau juga dong, ada nggak sih NGO yang ngebela hak-hak ayam yang dibantai karena virus flu burung?

    • Lha gimana vaksinasinya nggak ribut sekarang, lha wong pembantaiannya aja baru aja ‘rame2′nya pas preparing sea games. Maka dari itu, pihak Fauna Welfare serta pemerhati kesejahteraan hewan lainnya mengusulkan pada pejabat setempat spt dinas peternakan, dsb memberi solusi yg lebih baik spt vaksin atau steril
      Kenapa nggak dari dulu? Salah satu alasannya adalah masalah dana. Dana yang masuk dari donatur kan tidak semuanya mencukupi utk pembuatan shelter dan vaksin, dsb. Dan ketika isu pembantaian ini menjadi ter’blow up’, maka dana yang masuk serta dibutuhkan memang seharusnya jadi lebih besar (maaf saya kasih kata seharusnya karena saya tidak tau kepastian mengenai masalah donasi)
      Kalau ada dana sih dari dulu kalee broh…. -_-”

      Dan soal ayam, saat ini kita fokus ke stray dog/cat. Kenapa? Karena MEREKA ITU STRAY, mereka itu TERLANTAR. Sudah hidupnya terlunta2, masih dibasmi juga….
      Kalo ayam kan biasanya berpemilik….tidak ada yang terlantar
      Saat ini ada rencana bikin NGO untuk memperhatikan kesejahteraan semua hewan, yuk dibantu dan didoakan (baru rencana lhooo)

      Mbak Dian, please CMIIW. thx

  • apapun itu semoga kesejahteraan hewan di indonesia bisa lbh dijunjung.sedih lihat hewan cuman jd pajangan sekalipun itu dipelihara.

    tapi yg trjadi di palembang saat ini sebetulnya potret buruk bagaimana dinas terkait ga punya strategi / ga ngerti malah.seharusnya dlm menghadapi rabies perlu solusi yg berkala seperti surveillance anjing terlantar dan anjing peliharaan.karena gamau repot,nunggu ada outbreak dan korban habis itu stamping out kaya yg di palembang dan daerah lain.sedih.maunya yang instan mulu.dbantuin surveillance ama program private malah bsnya minta duit+mempersulit.hd maunya apa?

  • saya nggak suka anjing jadi saya go a head lho mbak dianparamita dengan isu yang ke blow-up… toh ini jangka pendek pasca SEAgames opo ? he eh?
    yaa… kalau dulu KKN di Bali ada program vaksinasi anjing? ya itu lebih baik. Mungkin langkah pemerintah tergesa-gesa… terus ada yang jadi buzzer… tara… ke blow-up… bagi saya ini angin lalu sekali.. beruntung isu ini ditanggapi oleh jajaran petinggi didaerah, ataupun pusat?
    hellow Papua Barat? hellow Orangutan yang habitatnya habis karena tambang dan batu bara?
    :P
    *OOT* abaikan aja ye.

    • Disayangkan sekali ya kalau masalah itu, memang karena pemerintah tergesa2….Lagipula setahu saya rabiesnya itu bukan wabah. Hanya beberapa ekor yang terkena rabies itu bukanlah endemik…wajar aja karena tentu saja anjing jalanan tidak divaksin anti rabies. Tapi sayangnya pemerintah menyamaratakan semua anjing seolah2 terlihat seperti “semuanya terkena rabies dan mereka semua harus dibasmi”

      Saya pernah bertanya pada pemda daerah xxx (disamarkan ya soalnya saya belum minta konfirmasi dan izin pemuatan pernyataan thd mereka) dan mereka bilang memang selalu masalah wabah rabies diselesaikan dengan pembantaian karena masalah ekonomi (kurangnya dana yang didapat pemerintah)
      Tapi hal itu tidak menutupi kemungkinan sterilisasi serta vaksinasi masal bila memang ada dana serta sponsor. Bahkan mereka meminta tolong pada saya untuk diadakannya sponsorship bila hendak ada sterilisasi serta vaksinasi masal

      Masalah orang utan, saya rasa birokrasinya nantinya dipersulit oleh pemerintah rasa-rasanya. Ada beberapa organisasi yang memang sudah bergerak tapi belum ada tanggapan dari pemerintahnya. Kayaknya perlu ‘suntikan dukungan’ dari pihak luar ni, mengingat spesies mereka juga spesies yang langka dan dilindungi….. :-)

  • el ascanio:

    lu mau tanya donasi itu buat siapa?tanya aja jelasnya ke pejaten shelter. trus artha.bisa y nangkep anjing jalanan? kl bs,knpa gak dia aja yg tangkep. kl emang dia pengalaman. elascanio, itu emang nama gue!!! raphael ascanio glorius!!! lu konfirmasi deh ke.pondok pengayom satwa,tanya donasi mereka buat siapa? trus emg artha pengalaman y? shelter aja dia g punya…. lu mesti tau! mana ada relawan pake fee? liat di laporan keuangannya. perasaan temen2 gue.berhari2 pergi jadi relawan di merapi n sidoarjo,g ada tuh yg minta fee.. walau mreka ninggalin bisnis mereka yg omsetnya jutaan perhari. malah mereka pergi dari rumah sampe segalanya kelar,pake duit sendiri tuh… yg ada mereka ngeluarin duit sendiri buat nolongin korban. dateng ke pemerintahan? apa hasilnya? mana artha ug katanya pengalaman. buktinya kasih bisa di boongin. kl gue org bodoh,gue minta perjanjian hitam di atas putih dong… itu yg bakal bs jadi bukti otentik buat ngusut pejabatnya.

    • Dear Raphael
      PPS yang di Ragunan itu adalah Government Organization. Milik Pemerintah. bukan NGO (NON Government Organization). Jelas aja masalah dana larinya beda arah. Lagipula perlu diketahui kalau PPS sama sekali tidak turun tangan atas apa yg terjadi di Palembang.
      Dana yang jatuh ke Fauna Welfare utk donasi secara berkala akan dilaporkan kepada para donatur
      Fauna Welfare tidak ada shelter, maka dari itu mereka butuh dana utk pembangunan shelter di Palembang
      Donasi buat siapa? Donasi utk pembiayaan vaksin, pembangunan shelter, dsb. Bukan utk para donatur. Relawan kok dibayar -_-”

      Anjing jalanan itu kan banyak sekali, Mbak Artha seorang diri tidak dapat meng-handle-nya. Makanya dia butuh relawan lain utk membantunya

      Saya juga denger dari kawan2 saya yang pergi ke Merapi kala itu, kebanyakan yang meninggalkan bisnis dll adalah orang2 sangat kaya raya, mampu, pengusaha, dll. Makanya mereka ngeluarin duit sendiri. Sementara sisanya, yang bukan kayaraya, bagaimana mereka bisa mengeluarkan duit sendiri. Anda pernah dengar ‘sumbangan utk para korban merapi’. Kalau memang orang2 mecam itu pake duit sendiri, lalu sumbangan2 itu buat siapa? Mereka yang datang dengan niat utk menolong, bukan dengan niat beserta uang, orang2 macam itulah yang sifatnya menjadi ‘distributor’ dalam dana sumbangan.

      Tapi saya gak ngerti kalimat terakhir, buat ngusut pejabat itu apa maksudnya?

  • Martha:

    Sampai sesadis itukah, sungguh terlalu!!! So apa boleh dikata nasi sudah menjadi bubur, yg harus dilakukan sekarang adalah memberikan bantuan/perhatian pada hewan2 yg terlantar dimanapun berada baik secara materil/moril.

  • elascanio:

    yuk kita tunggu hasil pertemuan 3 pihak di PPS……
    setelah pertemuan kemarin tidak menghasilkan sesuatu karena FW tidak hadir…..
    apakah FW akan tidak hadir lagi….

  • elascanio:

    kalo relawan gak di bayar…..
    trus maksud artha 3×100 ribu itu apa?

  • tania:

    Byuh,, agak sakit baca komen2nya.

    Bagi saya, anjing2 itu bukan anjing2 liar lho ya, mereka itu (di)terlantar (kan), yang akhirnya beranak pinak di jalanan.
    Saya dukung sepenuhnya kinerja dr FW, PS, PSS, dkk.
    Siapapun pemilik shelter, siapapun yg rescue di jalanan, toh niat mereka ingin menyelamatkan mereka. Dikemanakan donasi yang masuk, itu ursan sama Tuhan.

    saya terus mengikuti kasus ini dari pertama sampai hari ini. doa saya, semoga hewan2 yang sudah diselamatkan dan ada di shelter, bisa mendapatkan dopter yang jauh lebih bertanggung jwab dr owner2 mereka sebelumnya.
    dukunglah terus tim rescue ini, karena hanya ada segelintir orang yang peduli dengan nasib hewan2 terlantar disana.

    Ijin share ya mbak

  • Saya jadi inget denngan kasus serupa yang pernah terjadi di daerahku. Tapi bukan karena alasan asean games ataupun yang lain nya. Tapi kaena memang sudah ada beberapa korban yang di gigit anjing yang positif rabies. Dan cara eliminsi nya dengan ditembak racun oleh petugas kesehatan setempat.

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  • Semua ada perannya. Baiknya dukung semua peran itu. Untuk pencinta hewan saya dukung, untuk masyarakat yg terganggu dan hewan kemudian menjadi semacam “hama” saya dukung utk cari solusi.

    Duduk bersama lebih baik. Yang penting, kepentingan umum harus didahulukan dan berikan 1 ruang didalam otak untuk menerima pendapat orang lain.

    Salam kenal

  • novi:

    Kalau boleh tahu dimanakah alamat shelter yang ada di palembang?

  • novi:

    kok enggak di jawab alamat shelter di palembang. Jangan jangan….

    • Ya elah. Masih aja ada komen kayak begini negatifnya. Sekali lagi ni ya: EMANGNYA HIDUP SAYA CUMA DI DEPAN KOMPUTER UNTUK JAWAB KOMEN TERUS? Maaf ya, hidup saya banyak pekerjaan yang ga kalah penting dengan aksi peduli anjing di Palembang ini. Butuh cari waktu untuk bales-balesin komen. Ingat ya, saya disini ga cari untung. Ga dapet apa-apa. Kok ya masih aja ada orang kayak situ mikir negatif. Nggak dijawab aja pikirannya udah negatif melulu.

      Nih alamat: Perumahan Griya Asri Mandiri Blok D3. Dekat Pabrik Indomie. Kalo mau dateng bisa sms dulu 081807980048.

      Besok lagi ga usah banyak mikir negatif. Suatu saat otak Anda jadi 100% rusak.

  • Dear komen negatif, kalo memang saya takut dapet pertanyaan yang saya tidak bisa jawab, saya tidak akan memberikan kebebasan Anda sekalian untuk komen di blog ini tanpa harus menunggu diapprove/accept oleh saya. Pahami dulu sebelum mikir negatif.

Leave a Reply