#TwitRadio 10: Pro Kontra Buzzer

September 10, 2012 by dianparamita

10 Septerber 2012 ini #TwitRadio Unisi 104.5 FM sudah siaran yang ke-10 kalinya dan saya tetap sebagai guest host menemani Mbak Bulan Annisa. Siaran yang ke-10 ini kita membahas mengenai banyaknya pro maupun kontra terhadap pekerjaan buzzer, alias ngiklan di Twitter dan blog menggunakan akun seseorang yang memikili cukup banyak followers. Narasumber yang datang di studio kita hari ini adalah para selebtweet yang sering mendapatkan tawaran buzzing, antara lain Leoni Secret, Aan atau founder akun @MentionKe, dan Deddy Avianto. Melalui telepon kita mewawancari Lolita selaku buzzer yang cukup sering buzzing dan Doni Verdian yang sering mengutarakan pendapatnya yang kurang setuju dengan adanya buzzer.

Namun sebelum kita membahas main topic tersebut, lewat telpon kita terhubung dengan istri Alm. Munir, Suciwati, mengenai pendapatnya tentang kampanye Menolak Lupa dan 2 juta avatar Munir yang semakin bergema di Twitter. Selain itu kita juga terhubung dengan dengan Melanie Subono membahas mengenai anti sirkus lumba-lumba. Silahkan mendengarkan…

TWITRADIO 10 sept 2012 pro kontra buzzer by Unisi Radio Jogja

Thank you for listening! (:

Dan terima kasih banyak kepada Mas Doni yang sudah menuliskan tentang wawancara kita hari ini di blognya ini. (:
PS: Saya on air #TwitRadio setiap Senin, pukul 21.00 hingga 23.00 WIB di Unisi 104.5 FM. Untuk streaming bisa di Jogja StreamersNux Radio, atau Tune In. Untuk Blackberry launcher bisa di http://bb.unisifm.com

Berfikir Sebelum Menolong

September 9, 2012 by dianparamita

Subuh ini saya dan Mbak Utied memiliki pengalaman hidup yang tak terlupakan. Saya menulis ini khusus untuk teman-teman, terutama perempuan, agar belajar dari pengalaman kami barusan.

Sekitar pukul 02.00 WIB subuh, saya dan Mbak Utied pulang dari Seturan, Jogja. Mbak Utied mengendarai mobil mengantarkan saya pulang dahulu. Saat di tengah jalan, di daerah sekitar Gejayan, di kanan jalan saya melihat ada pria bule tua berbadan besar sedang mendorong seorang perempuan kecil asia menghantam mobil. Saya sangat khawatir, apalagi dada perempuan itu terbuka, padahal ada sekitar 7 laki-laki menonton mereka berkelahi. Saya meminta Mbak Utied untuk berhenti lalu membuka jendela menanyakan kepada seorang laki-laki yang sedang menontong. Saya tanyai dia apa yang sedang terjadi, dia jawab  pria bule dan perempuan asia itu sedang berkelahi. Saya dan Mbak Utied bingung, lalu keluarlah saya dari mobil. Saya mendekati pasangan itu, saya tanyai mereka, “what is going on here?” Si perempuan menjawab, “he’s drunk, you know!” sambil menggeret sabuk si pria bule. Pria bule itu teriak menjawab,  ”I just wanna go home!” Mereka rebutan kunci mobil, lari-lari, geret-geretan hingga celana hampir copot, uang ratusan ribu si pria bule jatuh berserakan, dada perempuan itu lagi-lagi terbuka dan tidak segera ia tutupi. Saya langsung menghampiri perempuan itu untuk membantunya menutupi dadanya. Si pria bule bilang rumahnya dekat situ sehingga dia pulang jalan kaki, sementara perempuan itu tidak mau ditinggal. Perempuan itu menarik lagi namun terjatuh hingga terluka. Si pria bule langsung pergi meninggalkannya. Perempuan itu berdiri dan memeluk saya sambil menangis dan berkata, “he’s my husband, my name is Melati (bukan nama sebenarnya), please help me,” dan saya jawab, “what do ou want me to do?” Berulang kali ditanyai, berulang kali ia menjawab, “he’s drunk you know.” Nafas perempuan itu berbau alkohol, maka kami tau dia pun mabuk.

Salah satu orang disitu yang ikut membantu meleraikan mereka -belakangan saya tau namanya Mas Nico- ternyata berhasil mendapatkan kunci mobil mereka. Mas Nico langsung naik mobil mereka, bermaksud mengantarkan Melati ke rumahnya. Saya pun ikut naik karena Melati masih menangis memeluk saya. Mbak Utied mengikuti mobil kami dari belakang. Dalam perjalanan Melati bercerita bagaimana pengorbanan dia karena sangat mencintai suaminya, bagaimana mantan istri suaminya itu sangat jahat kepada suaminya, bagaimana suaminya tidak kunjung berpisah dengan mantan istrinya. Ia curhat sambil menangis. Sesampai di rumah mereka, si bule sudah ada di rumah. Kami dibukakan pintu, memasukkan mobil mereka. Kami bingung untuk meninggalkan mereka di rumah sendirian karena kami takut si bule akan memukul Melati. Kami pun masuk garasinya.

Saat sudah di dalam, kami keluar mobil. Saya hampiri si bule dan memintanya untuk tidak memukuli dan mendorongnya lagi. Si bule sempat marah pada saya, dia mengaku tidak memukul, “that’s your own judgement!” Saya salah, ternyata si bule memang tidak memukuli Melati. Sayapun meminta maaf, lalu langsung keluar, menutup pagar, meninggalkan rumah mereka. Saat kami hendak pergi, mereka teriak lagi dan terdengar suara “BUK!” lalu alarm mobil mereka hidup kencang sekali  dantidak segera dimatikan. Kami masuk lagi untuk cek, mereka hanya berdiri memandang. Saat alarm sudah berhenti, kami keluar lagi, menutup pagar. Namun Melati ikut keluar , meminta Mas Nico dan saya masuk lagi. Dia curhat lagi meminta saya membantunya untuk mengatakan kepada si pria bule, entah mengatakan apa. Saya minta dia duduk di teras ngobrol dengan si bule di depan saya. Saat sudah duduk, saya katakan pada si bule, “you were fighting on the street, so it’s our business now. You’re disturbing the neighborhood. So now what is the problem?” Si bule jawab, “I just wanna go home,” dan lagi-lagi Melati mengulangi curhatannya. Saya katakan pada si bule untuk masuk rumah dan beristirahat, dia langsung setuju. Dia tidak terlihat mabuk, hanya malu dan bingung. Saat itu teman laki-laki saya, Arga, Iwan, dan Tommy mulai datang. Melati tidak mau masuk, dia terus-menerus curhat, dengan dada yang lagi-lagi tanpa sengaja terbuka. Saya bujuk dia untuk masuk rumah lalu istirahat. Saat kami hendak masuk, ternyata dikunci si bule. Kami mengetok pintu memanggil pembantunya dan dibukakan. Akhirnya dia masuk dan kami tinggal. Belakangan kami tahu, pasangan ini berkelahi sudah sejak 2 jam yang lalu. Warga bingung melerai karena mereka laki-laki, tidak bisa ngobrol dengan Melati. Saya dan Mbak Utied datang memang sangat tepat.

Ini sebenarnya masalah yang sepele, yaitu menolong orang. Akhirnya berjalan baik-baik saja. Saya dan Mbak Utied puas sudah bisa membantu pasangan ini. Tapi sebenarnya ini pengalaman yang jika saya ingat, saya merinding ngeri, betapa bodohnya saya. Ada banyak sekali modus baru dalam penculikan maupun pencurian. Pengalaman saya barusan adalah sebuah pelajaran besar untuk berfikir sebelum menolong. Saya dimarahi habis-habisan oleh teman-teman saya, betapa bodohnya saya menolong mereka dan mau masuk ke dalam mobil mereka. Beruntung ternyata mereka orang baik. Tapi bagaimana jika ternyata mereka bukan orang baik? Jika ternyata semua itu hanya sandiwara untuk mencuri mobil Mbak Utied atau lebih mengerikan lagi, memperkosa kami untuk dijual ke luar negeri sebagai pelacur? Saya masih ngeri membayangkan kalo ternyata tadi mereka orang jahat, menyekap saya sudah di dalam mobil mereka, mengambil mobil Mbak Utied, lalu memperkosa kami berdua. Ya Tuhan, betapa lugunya saya. Namun sujud syukur saya masih beruntung. Orang yang saya tolong bukan orang yang bermaksud memanfaatkan pertolongan saya. Saya menolong orang yang memang membutuhkan pertolongan saya.

Lalu sebenarnya apa yang sebaiknya kita lakukan jika menghadapi situasi seperti ini?

  1. Berhenti dan tentu saja menolong.
  2. Tetap kunci pintu, tidak membuka jendela, apalagi membuka pintu.
  3. Langsung menelpon orang terdekat, ceritakan kejadian, lokasi kita, nomer polisi mobil mereka, lalu menelpon polisi.
  4. Jika polisi sudah datang, baru kita pulang, tak usah ikut campur.

Saya orang yang selama ini sangat paranoid terhadap keselamatan saya dan orang yang saya cintai. Saya orang yang selalu mengingatkan teman saya hal-hal detail untuk keselamatan diri kita dari penjahat. Namun malam ini saya luput juga. Ternyata dalam situasi tertentu akal sehat kita bisa tidak bekerja karena panik. Akhirnya maksud baik justru bisa dimanfaatkan penjahat. Saya memohon teman-teman untuk menjaga diri, tetap paranoid, dan berfikir dua kali sebelum menolong orang lain. Dunia ini dari dulu hingga sekarang kejam, kita harus selalu waspada. Semoga pengalaman saya dan Mbak Utied berguna untuk kita agar waspada pada situasi apapun.

8 Tahun Berlalu, Munir Masih Disini

September 7, 2012 by dianparamita

Hari ini, 8 tahun yang lalu, di udara sana, Munir meninggal dunia. 4 jam sebelum mendarat di Belanda, negara tujuan belajarnya, ia diracun agar pergi untuk selamanya. Para penjahat pecundang itu tak tahu lagi bagaimana membuatnya berhenti menghalangi aksi kotor mereka. Para penjahat pecundang itu memilih membunuhnya agar ia mati dan diam.

Sekarang, 8 tahun kemudian, dua juta pengguna Twitter menggunakan avatar mendiang Munir. Peribahasa tak pernah salah, bahwa mati satu memang akan selalu tumbuh seribu. Mati satu harapan kita, tumbuh jutaan harapan baru. Para penjahat pecundang itu tak tau bahwa seberapapun mereka mencoba membunuhnya, jiwa Munir tak akan pernah mati.

Munir masih disini. Jiwanya masih terasa mengelilingi, mengilhami, menghidupkan jiwa kita. Jiwanya mempersatukan kita untuk melawan lupa, melawan diam, melanjutkan cita-citanya menuju keadilan bersama. Jiwanya mengingatkan para penjahat pecundang itu agar bersiap-siap, karena mereka akan segera kalah.

Maka hari ini, saya harap setelah membaca tulisan ini, mari sejenak kita mengheningkan cipta untuk Munir. Untuk mendoakan kedamaian jiwanya, mengenang jasa-jasanya, meneruskan perjuangannya. Semoga ia selalu tersenyum di atas sana, seperti ia selalu memberi senyuman baru bagi mereka yang tertindas.

PS: Gambar di atas adalah desain untuk 45 kaos limited edition yang dilelang pada 8 Desember 2010 lalu. Mohon untuk tidak menjiplak dan menghambat kampanye #MengenangMunir.

TwitRadio #8: Rekaman Interview @TrioMacan2000 & @provokatrok

September 5, 2012 by dianparamita

Semalam, seperti biasa saya on air di #TwitRadio di Unisi 104.5 FM. Acara ini sudah yang ke-8 namun saya hadir yang ke-6 sebagai guest host. #TwitRadio kali ini paling istimewa, karena 2 akun anonim di Twitter yang sangat eksis, @TrioMacan2000 dan @provokatrok, bersedia saya wawancarai. Karena special, saya tidak menuliskan ulang isi siaran semalam, tetapi saya upload rekamannya disini. Terima kasih Dimas Anantyo yang sudah bersedia membantu membagi rekaman menjadi 3 bagian dan Bernad Satriani yang bersedia membantu upload. Bagi yang kemarin ketinggalan wawancaranya atau ingin mendegarkan ulang, ini dia rekaman wawancaranya. Silahkan mendengarkan.

TwitRadio 8: Opening by @dianparamita


TwitRadio 8: Interview @TrioMacan2000 by @dianparamita


TwitRadio 8: Interview @provokatrok by @dianparamita


Thank you for listening! (:
 

PS: Saya on air #TwitRadio setiap Senin, pukul 21.00 hingga 23.00 WIB di Unisi 104.5 FM. Untuk streaming bisa di Jogja Streamers, Nux Radio, atau Tune In. Untuk Blackberry launcher bisa di http://bb.unisifm.com

Pets Adoption Night 2 September 2012

September 1, 2012 by dianparamita

Binatang peliharaan di Indonesia sudah mencapai angka populasi yang sangat tinggi, atau biasa disebut over populasi. Salah satu penyebab over populasi adalah breeder yang terus-menerus mengembangbiakkan hewan peliharaan untuk dijual ke masyarakat, tanpa memikirkan dampak kesejahteraan binatang tersebut dalam jangka panjang. Bahkan proses pengembangbiaakan, penjualan, hingga ke tangan pembeli/pemilik pun tak selalu baik. Binatang-binatang peliharaan ini tidak selalu mendapatkan perlakuan baik sehingga banyak yang ditemukan terlantar atau disiksa. Masalah ini belum banyak mendapatkan kepedulian khusus dari masyarakat maupun pemerintah. Maka, lewat acara Pets Adoption Night, Pets Movement ingin mengajak para pecinta binatang agar bersama-sama menyebarkan informasi ini ke masyarakat luas dan berbuat sesuatu untuk mengatasinya.

Setelah berhasil menyelenggarakan acara pertama di bulan April dan kedua di bulan Mei lalu, Pets Movement akan kembali mengadakan acara serupa “Pets Adoption Night 3” yang ingin mengajak masyarakat untuk lebih banyak sharing mengenai pentingnyya adopsi daripada membeli dan pentingnya sterilisasi binatang peliharaan kita.

Pets Adoption Night 3 kali ini akan lebih seru karena akan dihadiri oleh seorang public figure dari dunia perfilman Indonesia, Dennis Adhiswara. Ia bersama istrinya adalah salah satu dari banyaknya public figure yang sangat peduli terhadap kesejahteraan binatang. Selain itu, seperti biasa, akan ada sharing cerita dari 2 komunitas pecinta binatang mengenai kisah mereka dalam menyelematkan binatang terlantar, stand adopsi dari Animal Friends Jogja dan Garda Satwa, serta live acoustic dari Dharma Music.

Acara ini akan digelar pada:

  • Hari Minggu, 2 September 2012
  • Pukul 17.00 – 20.00 WIB
  • Garden Juice, Jalan Kaliurang Km. 5 Blok C No 26, Pogung Baru, Jogja
  • Untuk umum dan gratis tanpa pendaftaran
  • Denah:

See you there!

Regards,

  • Pets Movement
  • Twitter: @petsmovement
  • Email: petsmovement@gmail.com
  • Website: http://petsmovement.wordpress.com

Meet Unity, My Sexy Cat

Agustus 26, 2012 by dianparamita

This afternoon I made a lip sync video with Unity, my cat. still messy so I fixed it with iMovie. Check it out!

So which one is better?

Nina’s Wedding

Agustus 24, 2012 by dianparamita

Beberapa bulan yang lalu, di suatu restaurant kecil, sahabat saya, Nina, menceritakan tentang laki-laki yang dekat dengannya. Ia seperti bingung saat itu. Bahagia namun belum yakin. Lalu saya katakan padanya,

Umur kita bukan umur mencari pacar lagi. Umur kita umur mencari pasangan hidup. Kita tidak lagi butuh a lover, tapi juga a best friend. Sekarang tanyakan pada hatimu, apakah dia bisa menjadi your part-time-lover and full-time-best-friend?

Nina tersenyum lebar sekali sambil matanya melirik ke atas. Senyumnya yang lucu dan khas. Saya tau, itu ekspresinya yang paling bahagia.

Beberapa bulan kemudian Nina dilamar dan 24 Agustus 2012 ini Nina pun menikah. Ia menikah dengan laki-laki yang selalu ia ceritakan, laki-laki yang ia anggap sahabatnya. Namun saya tidak yakin. Tugas utama seorang sahabat adalah memastikan sahabatnya bahagia. Saya ingin pastikan Nina bahagia. Berkali-kali saya tanyakan pada teman-teman pasangan Nina, “apakah laki-laki ini baik? Dia akan baik kepada Nina kan?” Walau semua jawaban yang saya dapat positif, saya tetap tidak yakin. Saya terus berdoa untuk Nina. Bahkan saat berjalan memasuki masjid tempat akad nikah, saya masih tidak yakin. Saya sangat khawatir. Sampai akhirnya mereka resmi menikah. Saat itu dari kejauhan saya melihat mereka berdiri di tengah para tamu, bertukar cincin, saling memandang, lalu tertawa lebar. Dari kejauhan saya melihat Nina sedang bersama sahabat hidupnya. Saat itu juga hati saya lega.

Thanks God, my Nina is happy. She married her part-time-lover-full-time-bestfriend! Thank you Laksono Kurnianggoro for making my girl so happy. Wishing you both all the happiness to live and grow old together. (:

Kebebasan Berpikir

Agustus 20, 2012 by dianparamita

Kebebasan adalah sebuah kata yang mulia, jangan sampai berubah menjadi negatif. Jaman dahulu mayoritas manusia tidak memiliki kebebasan. Hidup tergantung raja, ada yang masih menjadi budak, wanita harus menuruti suaminya walau suaminya salah, atau bahkan memprotes pemerintah pun bisa diculik atau dibunuh. Dahulu kebebasan adalah sebuah kemewahan yang mahal harganya. Tapi jaman sekarang kebebasan adalah hal yang biasa. Masyarakat take it for granted. Justru mengubah maknanya menjadi negatif, mengira bebas berarti bar-bar.

Jaman sekarang banyak yang langsung menolak mentah-mentah jika dihadapkan dengan kata “kebebasan.” Mereka langsung tidak setuju, berpikir bahwa kebebasan itu hanya untuk orang-orang kafir yang ingin hidupnya seenaknya sendiri. Pikiran yang terbiasa dikekang, akan menerima makna kebebasan dengan negatif.

Semalam, status BBM teman saya, Daniel Ziv, sangat menarik:

The precious liberty of mind makes its possessor open to all good things (Kebebasan berfikir membuat pemiliknya terbuka pada semua hal baik) - A.C. Grayling

Quote Pak Grayling di atas mencirikan kebebasan sebagai sesuatu yang precious, berharga. Berharga karena memiliki manfaat yang positif. Seseorang yang diberi kesempatan bebas menghadapi dunia tanpa dikekang, secara alami akan mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Karena terbiasa menerima segala informasi, ia akan terbiasa menghadapi orang yang berbeda dengannya sehingga ia akan mampu menghormati perbedaan dan bersikap bijak. Seringnya seseorang bertemu dengan perbedaan juga menyebabkan seseorang mampu menciptakan prinsip hidupnya sendiri, menciptakan identitasnya sendiri, sehingga tidak mudah terpengaruh atau takut dipengaruhi. Pada akhirnya, orang yang memiliki kebebasan berpikir memiliki jiwa yang positif dan menerima segala hal dengan positif. Tidak langsung menolak, tidak langsung berfikir negatif. Seperti quote di atas.

Maaf

Agustus 19, 2012 by dianparamita

Saya belajar dari Ashton Kucher, yang berjiwa besar meminta maaf kepada publik dan mengakui kebodohannya yang teledor mengomentari sesuatu dalam tweet-nya namun ternyata ia salah. Seseorang yang salah kadang dalam hatinya mengakui dirinya salah, namun terlalu gengsi untuk meminta maaf. Saat meminta maaf pun, orang yang berjiwa kerdil akan hanya sekedar mengucap maaf namun terasa terpaksa, tidak benar-benar meminta maaf.

Belajar dari Ashton Kucher, jika salah, meminta maaf lah segera dan tunjukkan betapa kita sangat menyesalinya dan mengakui kebodohan kita. Beberapa bulan lalu, satu tweet saya ada yang salah dan merugikan orang lain. Banyak yang protes, menyalahkan saya. Saya sempat kebingungan. Kemudian saya ingat sikap jiwa besar Ashton, maka saya praktekan. Saya meminta maaf dengan tulus dan sangat mengakui kesalahan. Tak diduga, orang-orang yang tadinya menyalahkan saya langsung memaafkan dan justru balik menghormati sikap saya. Dari kejadian itu, saya akui, maaf adalah sebuah energi yang sangat positif. Namun jika kita benar-benar memahami kesalahan kita dan ikhlas mengakuinya.

Tapi tak semua maaf semudah itu kita lakukan. Entah karena sibuk, atau kita masih belum yakin dengan kesalahan kita, atau orang lain masih belum bisa memaafkan kita. Beruntung Allah telah memberi kita waktu yang sangat spesial untuk meminta maaf dan memaafkan. Jika di dunia ini kita melakukannya bersama-sama, maka lebih mudah kan? Allah begitu cerdik, begitu baik, seharusnya kita tidak menyiakan moment berharga ini. Mari kita saling meminta maaf dan memaafkan.

Selamat idul fitri saudara-saudaraku. Sepenuh hati saya memohon maaf atas segala kata dan tindakan yang tidak berkenan.

Lewat Djam Malam (Spoiler)

Agustus 17, 2012 by dianparamita

Di dalam bioskop, saat film ini dimulai, saya baru sadar film yang akan saya tonton adalah film kuno Indonesia. Film tahun 1955! Kata teman di sebelah saya, “ini film lama yang direstorasi. Tadinya rusak, diperbaiki, jadi bisa ditonton lagi, Mit.” Wah saya senang bukan main. Belum pernah saya menonton film Indonesia jaman nenek saya masih muda. Saya siap menikmatinya!

Tidak seperti posternya yang seperti film romansa-semi-bokep, film karya Usmar Ismail ini berkisah tentang kegelisahan seorang mantan tentara pasca proklamasi. Saya tak menduga orang jaman dahulu lebih kreatif daripada jaman sekarang. Terutama ide cerita mereka. Namun karena banyak budaya dan gaya yang berbeda dengan jaman sekarang, banyak penonton dalam bioskop yang hanya bisa menertawai kejadulannya sehingga mereka melewati makna film ini, film yang berjasa menyadarkan pandangan kita.

Saya tidak bisa menertawainya, saya justru sangat mengagguminya. Karena film ini, saya menjadi bisa membayangkan bagaimana orang-orang jaman dahulu saling berbicara, bagaimana gaya kalimat-kalimat “gaul” mereka, cara mereka berpesta, berdansa, bercanda dengan berpantun sambil menyanyikan lagu Rasa Sayange. Saya menjadi tahu “cewek cantik” pada jaman itu: tembem sedikit sipit. Yang membuat saya tahu, mengapa nenek saya menjadi idola laki-laki jaman dulu. (: Saya pun sangat terpesona, melihat betapa indahnya kota Bandung 57 tahun lalu. Trotoar besar dan bersih, toko-toko berjejer cantik, suasana lenggang dan nyaman. Sungguh indah. Ini benar-benar film yang dibuat pada jaman itu dengan pemikiran jaman itu pula. Bagaimana kita tidak menikmatinya? Seperti masuk dalam mesin waktu!

Selain menikmati keindahan Indonesia jaman dahulu, tokoh utamanya pun sangat ganteng! Iskandar (diperankan oleh A.N. Alcaff) seorang mantan tentara yang ingin memulai kehidupan baru sebagai penduduk sipil. Saat memulai kehidupan sipil, dia tinggal bersama kekasihnya, Norma (diperankan oleh Netty Herawati) beserta keluarganya. Untuk mengisi waktu luangnya, calon mertuanya memberi dia pekerjaan sebagai karyawan pemerintah. Namun karena sering disindir teman sekantornya, dia memukulnya, yang menyebabkan dia dikeluarkan dari pekerjaannya. Karena itu, dia berusaha mencari pekerjaan baru dengan mengontak kawan-kawan lamanya di dinas ketentaraan yang sekarang memiliki usaha sendiri. Tetapi selama dia mencari, dia justru mendapati bahwa korupsi telah merajalela dan selama ini dia berjuang hanya untuk kekayaan atasannya. Disini Iskandar terlihat sangat linglung, gusar, emosian, dan bodoh. Tak sedikit penonton yang menyeletuk, “bego banget sih!” dan kemudian sebal karena menganggap film ini “nggak jelas.”

Saya prihatin tapi sekaligus senang juga. Senang karena berarti Alcaff berhasil memerankan tokoh Iskandar yang bodoh dan stres itu. Prihatin karena penonton yang tak mau melihat lebih dalam kisah ini. Bahwa kisah ini sebenarnya sangat menyedihkan, tentang seorang tentara yang selama ini hidup dalam peperangan, setiap harinya diperintah untuk membunuh, lalu pulang dan hidup di suasana kota yang penuh hura-hura. Mantan tentara perang butuh beradaptasi untuk memulai kehidupan baru sebagai penduduk sipil, tapi tak ada yang memahaminya kecuali kekasihnya. Siapa yang tidak linglung dengan keadaan itu? Apalagi saat dia mengetahui bahwa suatu keluarga yang pernah ia bunuh itu sebenarnya bukan musuh, tetapi keluarga yang direbut kekayaannya oleh atasan Iskandar. Bagaimana Iskandar tidak marah dan membunuh atasannya? Maka menjadi sangat rasional jika Iskandar bertingkah linglung, stress, emosian, dan tentu saja bodoh. Seperti film-film Amerika jaman sekarang yang menunjukkan betapa perang membuat tentara muda stres berat dan bertindak bodoh, film Indonesia 57 tahun lalu sudah lebih dahulu berusaha menunjukkannya.

Di akhir film, saat penonton tak sabar keluar bioskop, ada sebuah pesan yang ditulis dengan font sangat kuno:

Kepada mereka jang telah memberikan sebesar-besar pengorbanan njawa mereka, supaja kita jang hidoep pada saat ini dapat menikmati segala kelezatan boeah kemerdekaan. Kepada mereka jang tidak menoentoet apapoen boeat diri mereka sendiri. 

Saya membacanya dengan sungguh-sungguh. Saya tidak setuju. Mereka yang memperjuangkan kemerdekaan kita saat ini tidak hanya mengorbankan nyawa mereka, tetapi juga secara tidak sadar mengorbankan kejiwaan mereka. Saya yakin banyak Iskandar-Iskandar yang hatinya berteriak meminta tolong namun tak ada yang mendengarkannya, memahaminya.

Film ini berhasil menyuguhkan pandangan baru tentang kesengsaraan pahlawan kemerdekaan kita. Terima kasih para Iskandar, para pejuang sejati. Ucapan terima kasih tak akan pernah cukup. Namun saya berjanji akan selalu mensyukuri dan memanfaatkan sebaik-baiknya atas segala hasil perjuangan dan pengorbananmu.

PS: Dirgahayu Indonesia ke-67!

« Previous Entries Next Entries »