Selamat Ulang Tahun Alm. Eyang Kasmat Bahoewinangoen
Hari ini eyang kakung saya, Kasmat Bahoewinangoen berulang tahun. Jika ia masih hidup, ia berumur 104 tahun. Dia adalah satu satu role model hidup saya. Memiliki jabatan dan sejarah hidup yang hebat tak membuatnya menjadi orang yang kaku. Ia masih tetap konyol dan lovable dalam kehidupan sehari-harinya. Saya ingin seperti dirinya.
Menurut Kotagede Ensiklop, eyang adalah tokoh kemerdekaan dan nasional. Ayah eyang seorang abdi dalem Kasultanan Yogyakarta, sedang ibunya seorang pengusaha emas dan intan terkenal di Kotagede. Dibesarkan di Kotagede, dididik guru mengaji Kyai Ibrahim, eyang kakung Kasmat sempat mengenyam sekolah Kristen milik Belanda, sebelum masuk ke Sekolah Kehakiman di Jakarta. Eyang bekerja sebagai Panitera di Pengadilan Negeri, dan setelah ditempatkan di beberapa daerah, meneruskan studi ke Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta, dan Fakultas Hukum Universitas Leiden Belanda, hingga meraih gelar Mr. (Mister) tahun 1943.

Eyang kakung Kasmat pernah menjadi Wakil Ketua PSSI, anggota pengurus besar Muhammadiyah, dan juga anggota pengurus besar Partai Islam Indonesia. Selain itu, eyang juga menjadi anggota delegasi Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) di Jepang. Bersama dengan Kahar Muzakkir dan Faried Ma’roef ditangkap oleh Belanda pada masa Perang Dunia II karena dituduh mengadakan gerakan untuk menggulingkan pemerintahan Belanda. Mereka bertiga dijatuhi hukuman mati, tapi berhasil selamat karena pemerintah Belanda dijatuhkan oleh Jepang. Atas jasa eyang, pemerintah Indonesia penghargaan sebagai salah seorang perintis kemerdekaan.
Sejak tahun 1960-1963, eyang kakung Kasmat menjadi Rektor UII, setelah sebelumnya menjabat sebagai Dekan Fakultas UII. Eyang menggantikan Prof. KH. Abdul Kahar Muzakkir sebagai rektor pada tahun 1960. Eyang menduduki jabatan itu dalam waktu relatif pendek yakni hanya sekitar tiga tahun, tetapi dalam kepemimpinannya berhasil membawa UII berkembang lebih maju dengan dibukanya Fakultas Syari’ah dan Tarbiyah, cabang UII di luar Yogyakarta, dan diperolehnya status bagi fakultas-fakultasnya. Fakultas Syari’ah dan Tarbiyah dibuka pada tahun 1961 dan 1962 sebagai pengganti Fakultas Agama UII yang pada tahun 1950-an diambil alih oleh Departemen Agama.
Dengan seluruh hal yang pernah eyang capai dan jabati, eyang berbeda saat di rumah. Lebih tepatnya eyang konyol, lucu, aneh, tapi lovable. Cerita-cerita mengenai eyang banyak saya dengar dan baca dari berbagai orang yang pernah mengenalnya. Seperti pernah saat di Leiden, Belanda, ia dan teman-temannya mengerjai noni-noni Belanda dengan menyamar menjadi anak kecil. Tinggi badan orang Indonesia termasuk sangat pendek sehingga banyak orang Belanda mengira mereka masih SD. Karena itu mereka justru mengerjai noni-noni Belanda dengan berpura-pura menjadi anak kecil menangis di pinggir jalan karena mau pipis. Saat ada noni Belanda membantu dan membuka celananya, tentu si noni kaget dan teriak karena untuk ukuran anak kecil, burungnya terlalu besar. Eyang dan teman-temannya memang jahil sekali.
Eyang kakung sangat mencintai eyang putri saya, eyang putri Siti Habibah. Eyang putri adalah bunga Jogja pada jamannya karena sangat cantik. Pada masanya, perjodohan masih lazim. Eyang putri dijodohkan dengan eyang kakung. Sebelum eyang kakung melamar eyang putri, ada 3 laki-laki yang lebih dulu melamarnya. Walau ketiga lelaki itu dari kaum bangsawan tapi oleh kakak tertua eyang putri tidak ada yang diterima. Eyang Kasmat lah yang diterima, karena latar belakang pendidikannya yang tinggi. Mendengar cerita ini saya bangga sekali. Ternyata saya memang terlahir dari keluarga yang menomor satukan pendidikan. Jadilah eyang kakung menikahi eyang putri.
Memiliki istri yang cantik menjadikan eyang kakung termasuk sosok suami takut istri. Walau eyang putri cantik, tapi ia galak sekali. Hehehe. Pernah suatu ketika eyang kakung mencat mobilnya dari warna merah menjadi putih lalu memamerkannya kepada eyang putri. Melihat hasilnya, eyang putri marah sekali dan tidak mau naik mobil itu jika tidak diubah dengan warna yang asli. Ini bukan karena eyang putri pilih-pilih tapi karena eyang kakung mengecat mobilnya dengan jarinya! Hahaha. Karena eyang putri marah dan tidak mau naik mobil itu lagi jika tak diubah ke warna aslinya, eyang kakung pun mengecatnya kembali ke warna merah, tetapi lagi-lagi dengan jarinya. ![]()
Namun pernah suatu ketika eyang kakung tak peduli jika eyang putri marah, yaitu saat eyang memberikan jaket bulu asli dari Jepang milik eyang putri ke seorang perempuan yang kedinginan di pinggir jalan. Ia tak peduli harga jaket bulu itu, dari mana jaket itu, atau bagaimana jika istrinya marah, yang eyang pedulikan nasib perempuan yang kedinginan itu. Saya selalu mengenang cerita ini untuk dijadikan contoh hidup dalam memilih prioritas dalam hidup.
Sayangnya saya tak banyak mengenal eyang. Pendengaran dan pengliatannya sudah terganggu sejak saya lahir. Tapi saya masih ingat wajahnya, baunya, ekspresinya jika tertawa, dan bagaimana dia memanggil “Mita” sambil mencari kepala saya. Ia selalu ada di benak saya dan menjadi role model hidup saya dalam mencapai cita-cita besar namun tetap menikmati hidup. Selamat ulang tahun Eyang Kasmat. Salam untuk eyang putri, eyang buyut, dan tentu saja Tuhan.
Related Story:
Kasmat Bahoewinangoen Membantu MIROTA Berdiri
Wikipedia: Kasmat Bahoewinangoen
Rektor Universitas Islam Indonesia
Diskusi “Matinya Universitas & Demokrasi” Fakultas Hukum UGM

Sore tadi akhirnya UGM membuat diskusi berjudul “Pembatalan Diskusi Irshad Manji: Matinya Universitas dan Demokrasi” di Fakultas Hukum. Acara ini (kalo saya tidak salah) diselenggarakan oleh Mahkamah FH UGM dengan moderator Mas Adip (LKiS) dan pembicara antara lain Zainal Abidin Baghir (Direktur Center for Religious and Cross-Cultural Studies), Ari Dwipayana (Dosen Fisipol UGM), Hasrul Halili (Dosen Hukum UGM), dan Kartika Nurohman (perwakilan KAMMI).
Sebagai pembicara pertama, Pak Zainal menceritakan ulang bagaimana kronologis perencanaan dan pembatalan diskusi yang CRCS selenggarakan dengan pembicara Irshad Manji itu. Ia mengaku bahwa banyak sekali diskusi mengenai agama yang sering dibahas di CSCR ini, namun tak pernah ada masalah. Ia juga menceritakan bagaimana Polda menghubungi panitia acara untuk terlebih dahulu berdiskusi dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Ia menyesalkan, universitas sebesar UGM ternyata bisa dikalahkan oleh sekelompok orang yang kita tak tau persis seberapa besar mereka. “Apakah semua diskusi harus didiskusikan dulu dengan suatu kelompok karena sensitif? 2 bulan yang lalu ada diskusi Papua kurang sensitif apa? Tapi tak ada juga yang memberitakan. UGM seperti tidak berdaya dalam situasi seperti itu. Negara ini sudah tidak aman,” tegasnya. Menurut Zainal, polisi justru menyuruh membatalkan, tidak mau melindungi mereka, seperti tidak mau repot. “Banyak kasus malah korban diungsikan. Jadi yang salah bukan yang marah-marah itu. Ini situasi yang tidak baik,” tambahnya.
Pembicara kedua adalah seorang dosen Fisipol UGM yang cukup ternama, Ari Dwipayana. Ia memulai pembahasannya mengenai bangsa yang pelupa. Menurutnya, peristiwa kemarin sebenarnya mengingatkan kita untuk melawan lupa. “Dengan cara mendiskusikannya kembali adalah strategi melawan lupa itu. Peristiwa seperti ini tidak hanya sekarang, tapi sudah pernah. Hanya saja kita mempunyai ingatan yang pendek,” katanya. Hal yang paling penting yang disampai Pak Ari adalah mengenai keberadaan Statuta UGM sebagai fondasi dasar UGM. Dalam Statuta UGM, terdapat penjelasan mengenai kebebasan mengeplorasi, menggali ilmu pengetahuan, dan mengekspresikan pada mimbar akademik. Hak hidup universitas itu dijamin dalam Statuta UGM dengan prinsip dasar bertanggung jawab. Baginya, diskusi sore itu bukan untuk memperbaiki citra universitas, tapi untuk memperbaiki hak hidup universitas. “Ini bukan hanya isu UGM. Namun lebih luas lagi. Maka agenda yang harus dilakukan bukan hanya mendorong kebebasan akademik di UGM untuk kita, tapi juga di luar UGM, yaitu kebebasan berekspresi tanpa harus diganggu oleh ancaman. Kalo kita tidak memiliki kebebasan akademik untuk mencapai kebenaran maka itu tragedi. Kelompok-kelompok ini memanfaatkan kebebasan, tapi disaat bersamaan membunuh kebebasan. Karena negara membiarkan aksi kekerasan mereka,” tegasnya”
Pembicara ketiga adalah seorang dosen Fakultas Hukum UGM yang sedang serius mendalami masalah korupsi, Hasrul Halili. Selain membahas mengenai aspek kebebasan berpendapat, ia juga menceritakan bagaimana petinggi UGM menjawab alasan-alasan pembatalan diskusi Irshad Manji. Selain alasan keamanan, ada pula alasan bahwa masyarakat dirasa mereka belum siap dengan diskusi ini. Menanggapi alasan itu, Pak Hasrul kecewa sekali karena dianggap bodoh tak mampu berdiskusi. “Jangan pikir kami kambing congek yang bodoh dan tidak bisa berfikir nalar dalam berdiskusi. Jangan mendahului kami dengan merasa perlu melindungi kami dengan membungkam hak orang berbicara,” tegasnya. Disamping itu Pak Hasrul mengkritisi CSCR yang seharusnya meminta maaf kepada Irshad Manji karena kejadian tersebut. “Ini bukan budaya menerima tamu yang baik. Seharusnya pihak CSCR yang diketuai Pak Zainal itu meminta maaf,” katanya.
Kemudian tiba-tiba ada tambahan pembicara satu lagi yang telat datang, yaitu Kartika Nurohman, perwakilan dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). KAMMI inilah yang meminta kepada pihak UGM untuk membatalkan adanya diskusi buku Irshad Manji di UGM. Kartika menjelaskan alasan kenapa ia dan kawan-kawan meminta diskusi buku Irshad Manji dibatalkan, yaitu karena ketakutan mereka jika Irshad Manji menularkan ke-lesbian-nya. Ia juga menjelaskan bahwa bagi dia dan kawan-kawannya, diskusi Irshad Manji memiliki lebih banyak mudharat-nya daripada manfaatnya karena tidak sesuai ajaran Islam. Namun di tengah-tengah ia menjelaskan mengenai alasannya, dia juga menanyakan, “Irshad itu Bung atau Mbak saya juga tidak tau. Mungkin kalo di rumah jadi Bung,” katanya. Mungkin baginya itu joke, tapi bagi saya dan beberapa orang disitu tidak lucu sama sekali.
Lalu pada sesi bertanya, saya menjadi penanya pertama. Poin saya ada 3, antara lain:
- Alasan keamanan tidak bisa diterima. Jika ancaman itu dituruti oleh UGM maka sama saja UGM takut pada ancaman preman. UGM telah dipimpin preman. LKiS memang kehilangan piring, kaca, dan lain-lain, tapi mereka tidak kehilangan harga diri dalam melakukan haknya. UGM sudah kalah dengan LKiS.
- Saya katakan langsung pada Kartika, “lesbian itu tidak menular, Mas. Jika ada cewek telanjang di depan saya, tidak akan saya apa-apakan. Dan dalam ilmu psikologi, lebian/gay sudah dihapus dari salah satu penyakit jiwa. Jadi sekali lagi, lesbian itu tidak menular.”
- UGM sebagai tingkatan pendidikan tertinggi diperlukan untuk meluruskan arti kebebasan berpendapat dan liberalisme. Karena masih banyak masyarakat yang mengatakan membatalkan Irshad berdiskusi itu adalah salah satu kebebasan berpendapat. Ada ketidaktahuan dari beberapa kalangan masyarakat mengenai definisi kebebasan berpendapat itu, sehingga perlu diluruskan UGM.
Lalu Kartika menjawab, “lesbian itu menular. Saya punya 3 teman yang tertular.” Saya jawab dia lagi, “itu berarti dia memang sudah lesbi, Mas. Dan saya lebih percaya ilmu pengetahuan daripada pengalaman seseorang dengan 3 temannya.” Kartika menjawab lagi, “saya lebih percaya dengan pengalaman saya bahwa 3 teman saya tertular.” Lalu ditimpali Pak Zainal sambil menatap saya, “eh ada 3 lho. Banyak lho itu 3″ Hahaha saya dan forum semua tertawa menanggapi guyonan Pak Zainal. Bahwa Kartika, yang hanya memiliki 3 pengalaman, sudah yakin betul bahwa lesbian itu menular. Selain itu Kartika menambahkan bahwa KAMMI ini adalah gerakan, dan gerakan lebih penting dari akademik. Tentu semua heran.
Selain saya, 3 penanya yang lain (semua dari mahasiswa UGM) hampir mirip dengan saya, intinya mereka juga tidak setuju dengan adanya pembatalan diskusi UGM. Namun ada satu perempuan yang setuju dan mengatakan dirinya keberatan dengan adanya diskusi Irshad Manji. “Mau dia lesbi kek, bukan kek, saya tidak peduli. Tapi saya tidak setuju jika dia mengadakan diskusi yang menodai agama,” katanya. Hal ini selanjutnya ditanggapi oleh Pak Zainal, “kalo dia lesbi tapi dia muslim, mau gimana Mbak?” Perempuan tadi menjawab ingin Irshad keluar dari Islam. Pak Zainal menyayangkan statement tersebut karena itu sama saja mengambil hak seseorang. “Bila dia ingin haji, dia mengaku muslim, ga boleh juga? Hak-haknya hilang. Itu susahnya. Sekarang tambah lama tambah banyak. Sekarang yang banyak ada kasus di Aceh tahun lalu. SK Gubernur Aceh, itu melarang suatu aliran sesat, Ahmadiyyah, Syiah, beberapa aliran Tasawuf. Sekarang di Aceh persoalannya bukan yang mana Islam dan bukan, tapi yang mana yang Sunni dan mana yang enggak. Jadi makin lama makin sempit. Ini repot. Kalo Anda bilang agama dilukai, ini perbedaan harus dilihat. Kalo saya punya pandangan yang berbeda dalam menafsirkan Quran misalnya, saya tidak mempunyai niat buruk, dan saya kira orang Ahmadiyyah segala macam tidak punya niat buruk, tapi kemudian dituduh melukai, ini saya kira bahasa yang buruk yang sering dipakai untuk mengungkapkan perbedaan. Jika ada perbedaan dikatakan penodaan dan niat untuk melukai. Masyarakat kita seperti ini, mau apa lagi. Ini adalah masyarakat yang majemuk, mau apa lagi. Ada beberapa hal yang kita nggak suka, kita harus biarkan ketidaksukaan itu. Sekali lagi saya khawatir, semakin lama semakin ‘ini tidak boleh ngomong tentang Islam, kalo kamu ngomong gitu, kamu bukan Islam’. Nah saya heran, umat Islam ini teriak-teriak ‘wooo ada Kristenisasi’ tapi yang orang Islam tidak diakui sebagai orang Islam. Jadi makin lama makin sedikit, repot. Ini seperti ada asumsi bahwa akan ada penikaman. Ini perbedaan yang harus disikapi. Yang kita tidak sukai itu realitas, jadi mau apalagi. Mau kita bunuh segala macam? Nah kembali ke tema kita sekarang ini, cara menghadapi hal-hal seperti ini, adalah dengan berbicara. Ada forum yang enak, kita bicara, dan jangan sekali-kali berfikir bahwa semua orang di dunia ini bodoh. Kalo Ahmadiyyah dibiarkan nanti semua orang akan jadi Ahmadiyyah, sesat, masuk neraka, segala macam. Belum tentu. Yang penting kasih ruang dulu supaya orang pikirannya jalan. Akal ini kan dikasih Tuhan, supaya orang mikir. Jangan takut pada sesuatu yang sudah diberikan Tuhan. Terima kasih,” jawabnya panjang dan disambut tepuk tangan.
Selama hampir 3 jam diskusi itu berjalan dengan lancar dan damai. Diskusi yang dihadiri dan dihidupkan oleh 2 pemikiran yang berbeda dan saling mengkritisi, menimpali, mengungkapkan pendapatnya. Seperti itulah yang seharusnya terjadi pada diskusi orang yang berpendidikan.
PS: Terima kasih Mahkamah Fakultas Hukum UGM karena telah menyelenggarakan diskusi hebat ini. Paling tidak masyarakat tahu bahwa tak semua warga UGM setuju dengan adanya pembatalan diskusi Irshad Manji dan kita tidak mau diam menanggapi tragedi itu.
Gerakan Rakyat Yogya Anti Kekerasan
Gerakan Rakyat Yogya Anti Kekerasan (Gerayak) pada Hari Sabtu, 12 Mei 2012 Pk. 13.00 di 0 Km Yogyakarta. Gerakan ini menentang adanya penyerangan acara diskusi buku Irshad Manji (9 Mei 2012) yang menimbulkan korban luka beserta kerusakan properti lainnya. Yogyakarta yang selama ini dikenal sebagai kota nyaman dan aman, malam itu terjadi kekerasan atas nama agama. Maka dari itu, beberapa organisasi dan kelompok Islam yang menentang penyerangan tersebut mengajak masyarakat untuk turut turun ke jalan, berkumpul, dan menyuarakan anti-kekerasan. Hiruk-pikuk orang berdatangan tidak ingin ketinggalan moment anti-kekerasan di Yogyakarta itu. Begitu pula dengan saya, turut meneriakkan anti-kekerasan dan mendapatkan kesempatan untuk berorasi.
Saya mahasiswa UGM yang selama ini bangga menjadi bagian dari UGM. Namun kemarin saya malu, perguruan tinggi tertua di Indonesia itu telah membatalkan sebuah diskusi buku karena ancaman. Padahal kita tak perlu menakuti ancaman. Jangan takut. Negara ini negara hukum. Jika kita takut dan menuruti ancaman, maka kita membiarkan diri kita dipimpim preman. UGM telah dipimpim preman.
Sedihnya, saat malamnya saya mendatangi acara diskusi buku Irshad Manji di LKiS, Majelis Mujahidin Indonesia atau MMI menyerang untuk membubarkan acara memukul teman saya, menginjak-injak makanan, melempari kaca perpustakaan sambil meneriakkan “Allahuakbar!” Apa-apaan itu?! Negara dan agamaku dirusak! Maka jangan pernah kita tolerir kekerasan. Apapun isi bukunya, mau gay mau lesbi, jika kamu tak setuju dengan pemikirannya maka lawan dengan pemikiran! Bukan dengan kekerasan!
Jika kekerasan itu terjadi, polisi wajib melindungi kami. Maka saya juga memohon kepada polisi untuk melindungi kita, bukan berpihak kepada mereka. Terima kasih
Saya berterima kasih pada bapak-bapak disana yang memberi kesempatan saya berbicara.
Kronologi Penyerangan Diskusi Buku Irshad Manji di LKiS Jogja 9 Mei 2012
- Sekitar pukul 12.00 WIB
Irshad Manji tweet mengajak diskusi bukunya di Lembaga Kajian Islam dan Transformasi Sosial (LKiS), Jogja Pukul 19.00 yang katanya untuk umum.
Agenda terakhir di #Indonesia ! Malam ini di LKiS #yogyakarta mari bergabung ! Info @St_Jazeela #Allah #Liberty #Love – @IrshadManji
- Sekitar pukul 17.00 WIB
Ia pun mengajak ekstrimis untuk ikut bertukar pikiran jika berani. Membaca tweet itu saya percaya diri untuk datang.
Ready 4 my final event in #Indonesia – 7 pm, LKiS, Jogja. Expecting at least 1 extremist 2 join dialogue. Let’s see if they r man enuff.
– @IrshadManji
- Pukul 19.00 WIB
Bersama ketiga teman saya, Nocky-Jow-Inong, kami ke LKiS, Jalan Paru Sorowajan Banguntapan Bantul.
- Sekitar pukul 19.30 WIB
Kami sampai disana tempatnya seperti sebuah rumah. Pekarangan tidak ditutup, tapi ada gerbang tinggi seperti gerbang menuju garasi. Gerbang dalam keadaan tertutup dan digembok. Dari luar bisa dilihat adanya diskusi di pendopo bagian dalam rumah itu. Setelah 10 menit lamanya, baru kami dibukakan pintu dan ditanyai kami dari mana. Saya hanya menjawab bahwa saya mahasiswa UGM. Saya dan teman-teman saya dipersilahkan masuk.
- Sekitar pukul 20.00 WIB
Kami dipersilahkan duduk di lantai di dalam pendopo. Saya mengambil posisi paling dekat dengan Irshad Manji. Diskusi berlangsung santai dan damai. Bahkan kami disuguhi pisang rebus, ketela, dan teh. Saat itu sedang tanya-jawab menggunakan bantuan translator. Irshad sempat ditanyai mengenai issue utama isi bukunya, mengenai sarannya, bahkan dikritik.
- Sekitar pukul 20.15 WIB
Saat Irshad hendak menjawab, ada seseorang dalam diskusi itu berteriak “FPI!” Terlihat ada segerombolan laki-laki berpakaian ekstrimis -yang baru kemudian diketahui massa dari Majelis Mujahidin Indonesia- menghampiri gerbang sambil berteriak-teriak. Selang beberapa detik mereka mendorong-dorong gerbang hingga rusak dan jebol. Mereka masuk namun sempat dihalangi 2 temannya sehingga mereka tidak langsung maju menghampiri kami. Saya datangi mereka untuk tau apa yang akan mereka lakukan pada saya. Salah satu berteriak, “karena polisi tidak bisa mengamankan, maka kami!” Saya masih berani disitu sampai kemudian batu-batu mulau dilemparkan ke arah kami dan teman saya, Nocky, meneriaki nama saya untuk mundur. Dia berhasil menggagalkan rencana bodoh saya menghadapi mereka. Saya mundur dan menuju ke pojokan rumah. Saat saya lari, saya menoleh ke belakang, beberapa dari massa MMi menendang dan menginjak-injak makanan sambil berteriak “Allahu Akbar!” Saat itu juga saya menangis. Negaraku dan agamaku dirusak! Lalu mereka melempari buku-buku Irshad, memecahkan pot, dan melempari kaca perpustakaan dengan batu. Salah satu teman Irshad, Emily, seorang wanita kulit putih menangis, tangannya kesakitan. Teman saya, Mas Jow, atas ceritanya langsung kepada saya, dia hampir kena parang dan akhirnya dipukuli bahkan diinjak-injak massa. Keadaan mencekam selama setengah jam, lalu massa pergi.
- Sekitar pukul 20.30 WIB
Saya mencari dimana Irshad, ternyata dia masih duduk di lantai sambil memeluk kedua temannya. Dia selamat dan dialah yang paling tenang menghadapi serangan ini. Saya datangi dia sambil menangis, saya katakan padanya,
I’m so sorry for everything. My country is not this bad. I’m sorry…
lalu dia memeluk saya dan mencium pipi saya, dia berkata,
Don’t be sorry. I understand. Thank you for being here. Don’t be sorry okay…
- Sekitar pukul 20.45 WIB
Setelah suasana kondusif, Irshad dibawa ke dalam rumah. Saya keluar dan melihat mobil polisi sudah datang. Saya hampiri polisi yang baru saja keluar dari tempat duduk pengemudia. Saya katakan padanya, “kemana aja Pak? Kenapa baru datang setelah seperti ini?” Dia terlihat marah dan menyuruh saya berbicara dengan atasannya. Saya datangi atasannya dan mengeluhkan hal yang sama. Dia hanya bisa terdiam saja dengan wajah bingung. Ada seorang laki-laki menepuk-nepuk pundak saya saat saya mengeluh. Ternyata itu atasan lain. Dia menjelaskan bahwa acara ini tidak ijin sehingga polisi tidak tau. Saa katakan padanya, kalaupun ijin, biasanya polisi justru melarang kami berdiskusi dengan alasan keamanan. Saya tambahkan, besok lagi jika ada diskusi seperti ini, polisi wajib melindungi kami, dan mengungsikan mereka yang melakukan kekerasan. Kekerasan itu melanggar aturan, diskusi itu dilindungi negara!” Dia terlihat tidak senang saya kritik namun dia kooperatir. Dia menyalami saya dan berkata, “besok lagi jika ada acara seperti ini, kita bekerjasama.” Beberapa wartawan merekam kejadian itu.
- Sekitar pukul 21.30 WIB
Setelah semua nampak aman, saya dan ketiga teman saya pulang dengan selamat. Semoga Irshad Manji dan kawan-kawan semua juga selamat dan tetap berani melawan kekerasan.
- Pukul 21.30 hingga saya menulis postingan ini.
Banyak mentions di Twitter berisi cacian dan ucapan syukur atas kekerasan yang terjadi di LKiS tadi. Namun lebih banyak yang mendukung, mendoakan, dan turut memperjuangkan melawan kekerasan. Saya bersyukur. Kita harus bersyukur.
PS: Semua cerita di atas sesuai dengan pengelihatan dan pendengaran saya. Hal-hal yang belum pasti tidak saya tuliskan disini. Mohon lihat latar belakang, identitas, dan posisi saya sebelum menghakimi saya membuat cerita bohong atau berlebihan.
Kewajiban Baru: Update Blog Setiap Hari
Sebenarnya, sepintar apapun seseorang, otaknya sama saja dengan ember. Jika isinya sudah melebihi kapasitas, maka isinya pun akan terbuang sia-sia. Semakin ember diisi air, jika penuh maka airnya akan luber, terbuang. Semakin otak diisi ide, jika penuh maka ide-idenya akan terlupakan, terbuang. Agar ide dan pemikiran kita tak terbuang sia-sia, maka tulislah. Alihkan pemikiran kita di sebuah tulisan. Maka ide kita akan abadi, tak akan pernah terbuang, bahkan dapat dibaca oleh siapapun, kapanpun.
Maka dari itu, malam ini saya membuat tanggung jawab baru dalam hidup saya: update blog setiap hari. Doakan.
Permohonan Maaf dari Saya Umat Islam

Mohon maaf jika ada umat Islam yang telah menyinggung bahkan menentang umat agama lain dalam beribadah. Mereka sekumpulan orang yang merasa paham Islam, padahal belum. Islamku tidak seburuk itu. Islamku adalah agama yang sebaik agamamu, sedamai agamamu, seindah agamamu. Tak ada sedikitpun yang berbeda dari kita, para pemeluk agama. Ini tanggung jawab kami sebagai umat Islam untuk menegur dan mengingatkan mereka. Sekali lagi, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga kita tetap berkawan.
Welcoming Jetta
1 Desember 2011 lalu, saat saya mengikuti protes ekspor sapi di depan Kedubes Australia, teman saya yang saat itu juga ikut protes, Mbak Artha, menyodorkan hpnya untuk menunjukkan foto anjing hitam yang terkulai lemas. Mbak Artha berbisik, “tabrak lari, belum ada yang menolong.” Saya hanya bisa mewek. Beberapa jam kemudian Mbak Artha BBM saya, “akhirnya aku bawa, ga tega lihat fotonya.” Anjing itu akhirnya dinamai Jetta. Ditemukan di pinggir jalan Slipi, korban tabrak lari. 6 jam ia terkulai lemas di pinggir jalan, tak ada yang menolongnya sampai Mbak Artha datang.
Awalnya Jetta dikira hamil karena berperut besar, namun ternyata tidak, dia mengidap tumor. Jadi selain kakinya patah, dia juga mengidap tumor. Tak begitu jelas bagaimana prosesnya, yang jelas Jetta dioperasi beberapa kali untuk menyembuhkan patah kaki dan untuk mengambil nanah di perutnya. Kakinya bisa sembuh walau pincang, namun tumornya tak bisa sembuh total. Jetta diperkirakan sudah tua, sehingga tak mampu menjalani operasi lebih lanjut. Perut Jetta sudah bersih, namun masih banyak tumor menonjol di beberapa bagian di tubuhnya.
Hingga bulan ini tak ada yang mau mengadopsinya. Alasannya satu, karena Jetta tumor, susah untuk diurusi. Setiap hari Mbak Artha mengganti DP BBMnya dengan foto Jetta agar ada seseorang yang mau adopsi Jetta. Jetta memiliki mata yang indah, sehingga matanya selalu membuat saya jatuh cinta ingin mengadopsi. Tapi apa daya, saya di Jogja, Jetta di Jakarta. Toh ortu saya tak mau memiliki anjing lagi, mengingat anjing kami, Shadow, yang juga rescue, tidak bisa 100% mendapat perhatian kami. Pilu saya setiap melihat DP BBM Mbak Artha berubah foto wajah Jetta. Akhirnya saya save foto itu dan saya upload di group BBM keluarga. Ternyata ayah saya jatuh cinta. Ia mau mengadopsi Jetta. Dibawalah Jetta dari Jakarta ke Jogja dengan bantuan Mas Jow dan Mbak Inong. And she’s here now, part of our family. I hope we can be a good family for her.
Pets Adoption Night April – Tidak Sempurna
Semalam acara ini tidak sempurna. Banyak sekali kendala yang kami lalui, mulai dari cuaca yang tidak mendukung dan masalah teknis pada proyektor. Namun kami senang sekali. Dalam keadaan hujan seperti semalam, dalam keadaan proyektor yang tidak bisa connect, peserta yang datang ke acara ini bisa dikatakan banyak. Dharma maupun Savior sebagai penyumbang lagu dan Mbak Alya sebagai MC juga membuat acara ini menjadi makin meriah dan hangat. Apalagi kalo tidak hujan dan proyektor bisa menampilkan semua foto pets ya. ![]()
Kita tidak menyesalinya karena kita akan mengadakannya kembali bulan depan. Bersiap-siap dari sekarang para pecinta binatang, kita akan share info lagi, akan share pengetahuan lagi dari para ahli, akan share foto pets need adoption lagi, dan sebagainya. Semoga bulan depan kita lebih baik. See you next month! ![]()
Salam,
Pets Adoption Movement
Pets Adoption Night – World Stray Animals Day 4 April
Dulu bagi saya mencintai binatang itu hanya sebatas memberi makanan dan menyayanginya. Sekarang setelah saya berkumpul dengan berbagai komunitas pecinta binatang di Indonesia, saya baru sadar, mencintai binatang tidak hanya seperti itu. Kita harus memikirkan mereka lebih detail, lebih luas, dan dalam jangka panjang.
Kita mencintai binatang dengan membelinya lalu mengurusinya, namun kita tidak sadar kita telah menjadi bagian dari masalah over populasi dan makin banyaknya binatang terlantar. Salah satu penyebab adanya binatang terlantar adalah jual-beli binatang peliharaan dari breeder. Belum tentu pembeli benar-benar mau dan mampu mengurusi. Dan belum tentu pembeli tidak mengawinkannya lalu menambah lagi binatang peliharaan, dan akhirnya semua berujung pada binatang peliharaan yang tak diurusi, dibuang, menjadi terlantar.
Tepat tanggal 4 April 2012, adalah Hari Binatang Terlantar Dunia. Untuk menyambut hari itu, saya bersama Nocky, Aci, bersama Animal Friends Jogja dan Shelter Meces, mengadakan acara Pets Adoption Night:
Hari/Tanggal : Rabu, 4 April 2012
Pukul : 18.00 -22.00 WIB
Tempat : Garden Juice, Jl. Kaliurang Km. 5 Blok C No. 26 Pogung Baru Jogja
Inti acara adalah memberikan ajakan untuk mengadopsi binatang peliharaan, info adopsi, syarat adopsi, dan share foto-foto binatang yang butuh diadopsi. Acara ini juga akan diramaikan dengan akustik oleh Savior dan Dharma.
Kita bersama menyelamatkan binatang terlantar! ![]()
Salam,
Pet Adoption Movement
Denah Lokasi Acara:











