Partai dan Caleg Pilihanku di 9 April 2014

April 9, 2014 by dianparamita

Hai teman-teman, maaf sudah menunggu rekomendasi partai dan caleg yang terbaik untuk dipilih. Aku membuat ini karena banyak yang nanya. Jika ada yang tidak setuju silahkan. Jika ada yang salah, tolong dikoreksi.

Aku Dapil 5 Depok Sleman btw. Bagi yang nggak sama dapilnya, kita hanya sama dalam memilih partai, DPD, & DPR RI.

Untuk partai, aku pilih PDIP. Walau banyak koruptornya, tapi selama ini banyak berita kinerja PDIP khususnya pada toleransi. Partai lain selain terlalu condong pada 1 agama, juga tidak banyak partai yang kuketahui melakukan aksi tegas untuk memperjuangkan toleransi.

Untuk DPD, saya memilih H. Abdul Muhaimin no urut 3, bukan dari partai apapun. Beliau adalah kyai dari Kotagede yang memiliki pesantren. Beliau selama ini memperjuangkan kedamaian beragama, toleransi beragama. Kata ibu, dia suka hengot sama pemuka agama lain. Menunjukkan beliau orang yang liberal. Calon DPD akan bekerja di MPR.

Untuk caleg DPR RI, DPRD DIY, dan DPRD Kab. Sleman, ini yang tricky. Jika kedepannya kita ingin memilih Jokowi sebagai presiden, maka mau tak mau kita harus mendukung semua caleg dari PDIP. Alasanku memilih caleg-caleg berikut ini tidak sekuat seperti alasanku memilih Abdul Muhaimin (caleg DPD) tadi. Alasannya adalah bersih. Untuk DPR RI aku pilih My Esty Wijayati no urut 3. Untuk DPRD DIY aku pilih Bambang Praswanto HP no urut 1. Untuk DPRD Kab. Sleman aku pilih Sri Riyadiningsih no urut 3. Caleg lain bukan tidak bersih, hanya saja ketiga orang inilah yang menurut pengamatan yang terbersih. Silahkan dikoreksi jika mungkin rekomendasi ini salah.

Memilih caleg hanya dari PDIP ini agar PDIP tidak harus banyak koalisi dengan partai lain. Jika koalisi dengan partai lain, nantinya harus memberi kursi mentri pada partai-partai lain yang tidak terlalu bagus, misal yang terlalu condong pada satu agama seperti PKS. Jika tidak koalisi, nantinya Jokowi bisa pilih mentri yang bagus, mentri dengan kemampuan tepat, mentri yang tidak harus dari orang partai. Saya yakin jika Jokowi dan PDIP tidak koalisi dengan partai lain, mereka akan memilih mentri yang tepat. Tidak terpaksa harus milih mentri dari partai koalisi seperti yang telah dilakukan SBY sekarang.

Memang dilema jika caleg dari PDIP tidak begitu meyakinkan. Tapi gimana lagi, ini agar saat Jokowi memimpin nanti tidak keganggu partai-partai berlatar belakang pelanggar HAM, berlatar belakang fanatik agama, berlatar belakang Orde Baru.

Memilih itu tricky, sulit, penuh perjuangan. ): Tapi jika kita menuntut pemimpin berjuang untuk kita, kitalah yang terlebih dahulu berjuang memilih pemimpin yang tepat. Berjuang memilih yang terbaik walau mungkin semua pilihan buruk.

Selamat memilih teman-teman. Terima kasih sudah bertanya, peduli, meluangkan waktu, dan pikirannya untuk pemilihan hari ini. Mari kita berpesta demokrasi. Suatu kemewahan yang tak banyak orang di dunia ini dapat merasakannya.

Mengkritisi Gita Wirjawan

Desember 3, 2013 by dianparamita

Calon pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki track record baik, yaitu tidak memiliki masa lalu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Hal paling utama untuk menjadi seorang pemimpin adalah ia harus mencintai makhluk hidup, apapun mereka. Sehingga bagi saya, masa lalu seorang calon pemimpin harus bersih dari segala pelanggaran HAM dan tidak tebang pilih karena perbedaan. Selain itu, seorang pemimpin harus sudah selesai dengan dirinya sendiri yang artinya tidak memiliki keinginan apapun untuk dirinya sendiri. Dia sudah puas dengan pasangan hidupnya, dia sudah merasa sangat kaya dengan hartanya, dia sudah merasakan berbagai keberhasilan sehingga tidak membutuhkan pengakuan, dan yang terpenting seluruh mimpinya sudah tercapai sehingga waktunya mewujudkan mimpi orang lain, kepentingan makhluk lain.

Baru-baru ini muncul capres baru yaitu Gita Wirjawan. Banyak yang tidak mengenalinya dan banyak yang sinis karena tiba-tiba ia sering muncul di iklan. Tugas kita mencari informasi lalu share untuk bekal mengkritisi dan memudahkan menentukan pilihan di 2014 nanti. Apakah Gita memiliki track record yang baik? Saya belum berani menjawab. Mari kita nilai bersama-sama.

Dalam kariernya di pemerintahan, sedikit pujian dan banyak kritikan untuk Gita. Pujian untuknya adalah saat ia menjabat Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan berhasil mencetak angka investasi asing tertinggi sepanjang sejarah pada tahun 2012 kuartal I. Ini menarik bagi saya karena investasi asing merupakan topik skripsi saya. Dalam skripsi saya menemukan bahwa pertumbuhan investasi, khususnya Foreign Direct Investment (FDI) dari tahun 2000:I hingga 2010:IV masih rendah. Jika pada tahun 2012 Gita mampu meningkatkan investasi asing, artinya ia mampu menciptakan kebijakan yang menyebabkan pihak asing mempercayakan dananya masuk di Indonesia. Investasi asing sangat dibutuhkan oleh negara berkembang seperti Indonesia. Sebab invetasi asing merupakan modal yang sangat membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat berujung pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan rakyat.

Kritikan untuk Gita adalah saat menjabat Mentri Perdagangan. Keputusannya untuk mengimpor dipandang merugikan pedagang lokal. Beberapa merasa para pedagang lokal lagi-lagi dikalahkan oleh pedagang asing. Namun perlu diingat bahwa impor adalah solusi permasalahan pasar domestik.  Dimana permintaan barang lebih besar daripada penawaran, yang membutuhkan tempe lebih banyak dari yang memproduksi tempe. Pedagang lokal tidak mampu memenuhi permintaan pasar domestik, sehingga untuk memenuhinya maka pemerintah harus mengimpor berbagai barang sesuai permintaan tersebut. Ini bukan pemerintah tidak melindungi pedagang lokal, hanya saja pemerintah harus memenuhi permintaan pasar dalam negri. Tidak mampunya pedagang lokal memenuhi permintaan pasar domestik disebabkan oleh kegagalan produsen kita dalam memproduksi hasil bumi. Jadi jika kita ingin melindungi pedagang lokal, maka dimulai dengan melindungi produsen dalam negri.

Sementara kritik tajam untuk Gita juga datang dari berbagai kalangan pecinta lingkungan, termasuk dari sebuah grup band asal Bali yaitu Navicula. Mereka mengkritisi Gita pada saat di #IMAYouth. Mereka merasa Gita hanya mengagungkan tingginya tingkat Produk Domestik Bruto (PDB) dan tidak menyentuh kondisi manusia dan alam yang terus dieksploitasi. Saya sendiri setuju jika angka PDB penting untuk mengukur kesejahteraan rakyat. Akan tetapi kesejahteraan tidak hanya dipandang dari bagaimana tingginya tingkat pendapatan rakyat namun juga bagaimana rakyat dan alam bebas dari eksploitasi. Seharusnya Gita tidak hanya memikirkan keadaan PDB Indonesia saja tetapi juga keadaan manusia dan lingkungannya. Jika Gita sudah merasa Indonesia berhasil meningkatkan pendapatanya, berarti PR pemerintah berikutnya adalah melawan eksploitasi. PR yang mudah jika bangsa ini dipimpin oleh pemimpin yang pemberani. Saya tidak tahu apakah Gita sosok yang pemberani. Namun jika Gita ingin memimpin bangsa ini, seharusnya ia mampu menunjukkan keberaniannya. Satu hal yang belum ia lakukan selama ini.

Lain halnya dengan kehidupan pribadi Gita yang tidak bisa banyak saya ketahui dan kritisi, selain ia memiliki 1 istri dan 3 anak. Kehidupan masa mudanya memiliki ayah yang bekerja menjadi dokter World Health Organization (WHO) di India dan Bangladesh dan kakek yang mendirikan sebuah sekolah besar di Yogyakarta. Selain itu, ternyata sahabat ibu saya adalah sepupu Gita. Ia mengatakan, Gita terbiasa hidup di luar negri karena ia mengikuti ayahnya yang sering bekerja untuk WHO tersebut. Setelah ayahnya selesai bekerja dan pulang ke Indonesia, Gita memilih untuk melanjutkan kuliah di Amerika Serikat hingga S2 di Kennedy School of Government, Harvard University! Satu-satunya fakultas yang saya pikirkan saat ini untuk melanjutkan S2 saya. Setelah selesai studi, Gita menjadi pemimpin di berbagai perusahaan internasional ternama seperti JP Morgan. Kata sepupunya, dari kesuksesannya Gita menjadi seorang yang kaya raya.

Dua hal yang selalu dipandang sinis oleh rakyat: kedekatan dengan pihak asing dan kekayaan. Lama hidup di luar negri dipandang tidak mencintai Indonesia. Mungkin benar, mungkin tidak. Namun yang pasti ia memiliki pengalaman hidup di negara maju untuk dapat dicontoh dalam memajukan Indonesia. Begitu juga dengan seseorang yang kaya akan melupakan wong cilik. Mungkin benar, mungkin tidak. Namun seseorang yang sudah berkecukupan maka seharusnya sudah puas dengan kekayaannya. Seharusnya kemudian ia memikirkan kesejahteraan orang lain. Jadi kembali ke Gita, bagaimana ia memanfaatkan pengalaman dan kekayaannya?

Well, Gita belum menyentuh batas pelanggaran HAM yang sangat saya benci. Kehidupan pribadinya juga terasa baik-baik saja. Pengalaman hidupnya seharusnya dapat menjadi bekalnya untuk memajukan Indonesia. Usahanya dalam karier pemerintahan masih dirasa kurang. Dari segala keberhasilan kehidupan dan kariernya, seharusnya ia sudah merasa selesai dengan mimpi dan dirinya sendiri. Jika memang demikian, seharusnya berikutnya ia berjuang mewujudkan mimpi orang lain, mimpi bangsanya. Mimpi bangsanya adalah rasa aman dari ketidakadilan. Kami sudah sangat haus pemimpin yang berani melawan ketidakadilan. Jika dalam websitenya Gita merasa berani lebih baik, maka kami tuntut Gita tidak hanya berani lebih baik dari pemimpin sebelumnya tetapi juga berani menegakkan keadilan. Berani melindungi yang benar dan melawan yang salah. Apakah Gita berani? Kita tunggu segala tindakannya hingga pemilihan nanti. 

Terlalu Serius

November 23, 2013 by dianparamita

Tidak jarang saya mendapatkan komentar dari beberapa orang tentang betapa seriusnya saya di Twitter maupun dunia nyata. Saya selalu membahas masalah politik dan sosial. Katanya saya terlalu serius. Kadang saya mendapat nada negatif, atau nomention negatif. Beberapa menolak diajak diskusi serius karena tidak mau pusing. Katanya seharusnya hidup saya itu dinikmati, jangan serius-serius amat. Ironisnya, ada seorang teman yang juga menikmati diskusi serius masalah negara menjadi tidak pede untuk ikut berdiskusi. Katanya karena takut dapat sindiran nyinyir. Duh sayang sekali ya? Ada anak muda yang peduli permasalahan negara kok dijatuhkan mentalnya. ):

Nada serupa juga sering saya dengar pada pembahasan film-film yang pakai mikir. Bagi saya, film yang pakai mikir itu asyik. Menantang dan menegangkan. Bahkan film mikir itu sering memberi pelajaran-pelajaran hidup yang berharga. Tapi banyak juga yang berkomentar sinis seperti, “mau nonton film kok pakai mikir!”  Bagi saya, tidak masalah tidak menyukai film seperti selera saya. Itu kan selera masing-masing.

Dari situ saya baru sadar, bahwa berdiskusi itu seperti nonton film. Punya selera masing-masing untuk dapat menikmatinya. Ada yang suka berdiskusi masakan, fashion, game, atau politik. Ada yang suka nonton komedi, drama, horor, atau thriller. Bagi saya, asal bisa memahami dan menikmati apa yang didiskusikan atau ditonton, pasti akan menikmatinya. Asal bisa memahami dan menikmati diskusi politik atau film pakai mikir, pasti akan menikmatinya. Jadi tidak perlu terlalu sinis atau mengejek orang yang terlalu serius, yang suka berdiskusi politik. Tak usah menjatuhkan mental mereka. Apalagi mereka yang punya kepedulian terhadap negara. Kita hanya berbeda selera saja. Tidak masalah kan? (:

Persiapan 2014

November 21, 2013 by dianparamita

Awalnya pilihan pemimpin Indonesia 2014 mendatang mengkhawatirkan. Saya tidak punya pilihan. Bahkan salah satu hasil survey calon presiden (capres) menemukan bahwa suara terbanyak dimenangkan oleh golongan putih (golput) atau tidak memilih siapapun. Ironis ya? Mungkin memang pilihan capres dalam survey tersebut terlalu sedikit dan banyak yang tidak meyakinkan sehingga lebih baik memilih golput. Tapi jika kita golput, tentu tidak menyelesaikan masalah negara dan justru memperkeruh. Karena dengan golput artinya kita menyerahkan masa depan kehidupan kita di Indonesia ini kepada orang lain yang belum tentu lebih bijak daripada kita. Ngeri kan? Walau berat, tapi kita tetap harus memilih yang terbaik walau mungkin semua pilihan terlihat buruk. Ini tak selalu mengenai capres tetapi juga calon legislatif di daerah pemilihan kita. Lalu sebaiknya siapa yang harus dipilih? Teman saya memberi saran yang bijak untuk 2014 nanti: kita harus mencari segala informasi dari seluruh calon pemimpin dan kita  pun akan mampu memilih siapakah yang terbaik. 

Setelah melewati masa krisis kepemimpinan, sekarang pun berubah. Semakin mendekati 2014, pilihan pemimpin Indonesia semakin banyak. Tidak hanya banyak, namun juga menjanjikan. Tokoh-tokoh baru yang menyegarkan. Sekarang bukan lagi bingung karena tidak ada pilihan, tapi malah bingung karena terlalu banyak pilihan. Tugas kita memilih yang terbaik pun semakin sulit. Tapi akan semakin ringan jika kita saling berbagi informasi dan pendapat. Bukan sharing secara personal mengenai siapa yang akan kita pilih, tetapi sharing informasi para calon pemimpin kita. Semakin banyak informasi yang kita tulis dan share, semakin nampak baik dan buruknya setiap calon pemimpin. Cara ini membantu kita menentukan masa depan kehidupan di Indonesia ini.

Well, euforia 2014 sudah terasa.  Jadi yuk kita mulai merayakannya! Mulai mencari informasi dan saling membaginya. Ini akan sangat asyik. Lebih asyik daripada tidak peduli dan keseret arus saja. (:

 

Percaya Tempo atau Si Jilbab Hitam?

November 15, 2013 by dianparamita

Kabar mengenai tulisan seorang anonim “Si Jilbab Hitam” yang mencoreng kredibilitas beberapa media besar terutama Tempo membuat masyarakat linglung. Selama ini masyarakat sudah menaruh percaya pada Tempo dan media besar lainnya, namun sekarang mereka pun dikabarkan kotor. Sekotor pejabat korup. Setelah membaca dan mendengar kabar ini, pasti banyak yang bertanya, siapa yang harus dipercaya?

Banyak yang menganggap jaman sekarang makin edan karena makin sulit menentukan siapa yang harus dipercaya. Sebenarnya jaman tidak makin edan. Jaman sudah edan sejak dulu. Hanya saja di jaman kita, tak ada yang dilarang untuk berpendapat dan menentukan pilihannya. Itu yang membuat jaman ini seperti lebih rumit. Tetapi kita beruntung hidup di jaman yang segala informasinya bisa kita dapatkan dengan mudah, tanpa takut menyebarkannya atau turut menentukan sikap. Hanya ada satu resiko yang harus kita tanggung pada jaman ini: kita harus jago menyikapinya.

Kita tidak perlu sinis dengan jaman ini, atau bahkan skeptis lalu memilih mundur tidak peduli. Justru banyaknya polemik, berita simpang siur, atau berbagai perseteruan yang kita temui itu memberi kita pelajaran berharga. Bahwa tak ada seorang pun di dunia ini yang benar dan bersih. Tak ada seorang pun. Hanya saja setiap orang memiliki perjalanan hidup yang bisa dinilai dan menjadi pegangan kepercayaan kita. Seperti bagaimanapun politikus ingin menjatuhkan nama Jokowi, tapi ia memiliki lebih banyak masa lalu yang baik. Atau bagaimanapun Aburizal Bakrie ingin mencitrakan dirinya, tapi ia memiliki lebih banyak masa lalu yang buruk. Ini dia yang terpenting, mempercayai suatu pihak tidak hanya yang mereka lakukan pada saat ini saja, tetapi juga masa lalunya, track record-nya.

Awalnya menanggapi berita buruk mengenai kredibilitas Tempo amat sulit. Tentu saja ada kesedihan. Media kesayangan yang selama ini memiliki data mengejutkan mengenai praktik curang para penjahat negara ternyata jahat juga. Media yang selama ini berani menyebarkan kebusukan pemimpin dan politisi ternyata busuk juga. Media yang selama ini mengolok para pencuri uang rakyat di cover majalahnya sekarang menjadi bahan olokan juga. Tapi perlu diingat lagi, Tempo selama ini memiliki data-data mengejutkan yang membuka informasi kepada kita maupun aparat negara. Tempo selama ini berani menyebarkan data tersebut agar para penjahat lebih takut melakukan aksinya. Tempo pun selama ini menciptakan cover yang mengolok penjahat-penjahat itu dan membuat kita semakin berani turut menyudutkan agar diadili. Tempo telah membeberkan informasi dan menghidupkan alam demokrasi maupun keberanian masyarakat. Setelah menilik kembali karya-karya Tempo selama ini, untuk sementara berita kebusukan mereka belum mengalahkan track record baiknya. Apalagi berita busuk tersebut hanya ditulis oleh seorang anonim dari antah berantah.

Review Film: Make Money

Sulit mempercayai film Indonesia, apalagi film yang tidak diadaptasi dari novel ternama atau sejarah. Biasanya film Indonesia yang tidak diadaptasi itu memiliki alur cerita yang tidak karuan dan mudah ditebak. Detail penting tidak diceritakan secara jelas, namun detail tidak penting sering muncul dan membosankan. Lokasi adegan juga kadang tidak seperti di Indonesia atau tidak sewajarnya yang ada di Indonesia. Karakter hanya dimiliki oleh pemain utama, sementara pemeran pembantu tidak dipedulikan. Apalagi beberapa sutradara tidak mampu memberikan arahan bagaimana aktor harus bersikap sewajarnya saat kaget, marah, senang, atau bahkan saat mendengarkan lawan mainnya berbicara. Dari hal-hal dasar semacam itu, kebanyakan film Indonesia masih gagal. Itulah mengapa saya sering malas nonton film Indonesia. Sorry. Tapi jika film itu bagus, saya rela nonton di bioskop hingga lebih dari 2 kali.

Tapi hari ini dengan berbagai alasan, saya jadi nonton Make Money. Alasan utama menonton film ini karena mengetahui Pandji Pragiwaksono adalah pemain utama. Seperti biasa, saya sudah underestimate duluan. Ah paling film komedi Indonesia yang nggak jelas seperti biasanya. Tapi saya salah. Eh bahkan salah banget.

Make Money menceritakan tentang bagaimana kita menghargai uang dan cara mendapatkannya. Ada yang bilang karakter film ini seperti karakter film Adam Sandler. Saya setuju. Bukan meniru tetapi film ini memiliki jenis cerita yang sama dengan film-film Sandler. Dimana tokoh utama mendadak mendapat masalah dan berusaha menyelesaikannya walaupun banyak hal aneh yang harus dilalui. Benar kata Pandji, “enggak usah nyari pelajaran apa yang bisa diambil dari film ini. Anggap saja kalian lagi piknik. Senang-senang saja.” Yup! Pelajaran hidup dalam film ini sudah sering kita dengar. Namun film ini mampu membuat suatu pelajaran hidup sederhana menjadi sebuah cerita rumit yang kocak dan tidak terduga.

Berulang kali saya membisiki teman saya, “ternyata bagus ya” atau “hah trus nanti gimana dong?” Ada beberapa adegan yang bikin saya terpingkal-pingkal seperti adegan laba-laba atau bikin nggak tega melihat adegan Putut (Albert Halim) minum dari gelas Odi (Ence Bagus). Saya sangat terhibur. Film ini berhasil membuat cerita yang menarik dan mengejutkan namun dikemas seperti kehidupan nyata di Indonesia. Semua pemain memainkan perannya dengan sederhana tapi itulah yang seharusnya. Seperti Pandji yang menjengkelkan, Putut yang gay, Ernest Prakasa yang tadinya teman baik jadi jahat, Ucok Baba yang bossy, dan Pak Yadi (Tarzan) yang pikun. Karakter mereka kuat namun akting mereka tidak berlebihan. Jokes dan kejutan dalam film ini pun baru dan belum pernah saya temui dalam cerita manapun. Apalagi ditambah lokasi-lokasi adegan yang terasa tak asing di sekitar kita. Dari semua kesederhanaan dan kejutannya membuat film ini menjadi apik dan menyenangkan. Seperti piknik di tempat asik yang sayang untuk dilewatkan. Apakah saya mau menonton lagi? Tentu saja!

Pluralisme Menyamaratakan Agama?

November 11, 2013 by dianparamita

Beberapa bulan lalu salah satu pembaca blog ini mengirim email untuk mengajak diskusi mengenai pluralisme. Saya senang sekali membacanya. Ini pendapat sekaligus pertanyaan darinya:

Definisi pluralisme seperti di atas sering ditemui di masyarakat kita. Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun mendefinisikannya demikian. Sepertinya pluralisme didefinisikan dengan kekhawatiran sehingga berakhir pada kesimpulan yang kurang tepat.

Sejak jaman dahulu perbedaan selalu menyebabkan banyaknya konflik dan korban. Konflik dan korban inilah yang mendorong nenek moyang menciptakan teori cara hidup dalam perbedaan, yaitu pluralisme. Jika kita merunut kembali dengan jeli, pada awalnya teori pluralisme itu ada karena adanya perbedaan. Teori ini ingin melindungi perbedaan. Kita diajak untuk mengakui bahwa perbedaan adalah sesuatu yang alami dan bukan untuk dibuat menjadi seragam. Kita diajak untuk menghormati pilihan orang lain yang berbeda dengan kita. Jika kita berhasil mengakui dan menghormati perbedaan, maka secara alami kita tidak akan ingin mengubah perbedaan tersebut. Secara alami hidup kita akan damai walau bertemu dengan banyak perbedaan. Itulah maksud baik dari pluralisme. Tak terkecuali pluralisme agama.

Pluralisme agama tidak pernah bermaksud untuk menyamaratakan agama, tetapi menyamaratakan hak setiap individu. Setiap individu memiliki hak yang sama walau berbeda keyakinan. Perlu digaris bawahi, pluralisme agama bukan untuk mengurusi keyakinan tiap individu Keyakinan dan pluralisme agama adalah dua masalah yang berbeda. Keyakinan adalah sesuatu yang ada dalam hati kita, sementara pluralisme agama adalah cara untuk berhubungan baik dengan masyarakat yang penuh perbedaan keyakinan. Memang sudah sepatutnya setiap orang meyakini bahwa agamanya adalah agama yang terbaik dari segala agama. Tak seorang pun boleh mengubah keyakinan tersebut. Tetapi sudah sepatutnya pula setiap orang mengakui bahwa orang lain memiliki hak yang sama walaupun memiliki keyakinan yang berbeda. Tak seorang pun boleh mengubah hak tersebut.

Selama ini yang sering terjadi, kita memperlakukan orang lain berdasar keyakinan mereka. Kita memberi hak orang lain berdasar keyakinan mereka. Contoh yang sering terjadi, seorang pemimpin harus beragama X karena di daerahnya mayoritas beragama X. Atau penganut agama Q tidak diperkenankan beribadah karena di daerah itu mayoritas beragama X. Padahal setiap individu memiliki hak untuk menjadi pemimpin atau beribadah, apapun agamanya. Hal-hal tersebut dapat mengusik perdamaian bermasyarakat. Sekali lagi, disinilah pluralisme muncul mengajak kita untuk tetap berpegang teguh pada keyakinan kita, tetapi juga tetap menjunjung tinggi bahwa hak setiap individu itu sama. Itu saja, sesederhana itu.

Jadi untuk Anda yang khawatir bahwa pluralisme agama akan menyamaratakan agama, tak perlu khawatir. Bukan agama yang disamaratakan, namun hak setiap individu lah yang harus disamaratakan apapun agamanya. Pluralisme agama ada untuk melindungi keyakinan setiap orang, termasuk keyakinan kita. Pluralisme agama ada agar tidak ada penindasan karena keyakinan yang berbeda.  Dengan mengakui hak setiap orang itu sama, maka kehidupan bermasyarakat yang penuh perbedaan akan damai karena tak seorang pun lebih berkuasa atau tertindas.

Menhut: Segera Bertindak Selamatkan Satwa Kebun Binatang Surabaya

Juni 27, 2013 by dianparamita

 

Namanya Melani, seekor Harimau Sumatera di Kebun Binatang Surabaya (KBS). 

Ia kurus, hanya seperti tulang berbalut kulit. Pada usianya, seharusnya berat normal Melani adalah 100kg, namun beratnya hanya mencapai 60kg. Satu-satunya yang masih mengesankan adalah sorot matanya yang tajam namun butuh pertolongan. Ia tak berdaya dan memilih selalu berbaring di lantai dan rumput. Hampir semua makanan yang ia telan tak dicerna. Selain memuntahkan makanannya, ia juga menderita diare. Bulan lalu, harimau bernama Razak juga mati karena penyakit paru-paru yang disebabkan kandang kecil dan kotor. Sekarang Melani dikhawatirkan usianya tak lagi panjang dan bahkan akan menghadapi euthanasia. Padahal spesies Harimau Sumatera seperti Melani sudah kurang dari 600 ekor di hutan-hutan Sumatera.

Maret 2012 lalu, satu-satunya jerapah koleksi KBS mati di kandangnya karena perutnya penuh dengan plastik. Selain jerapah, nasib buruk juga dialami satwa lain yang hidup bersama puluhan hewan lain di kandang sempit dan kurang pencahayaan, yang hidup di tengah sampah berserakan, dan bahkan tak bisa berteduh karena kandangnya dijadikan kamar sewaan untuk manusia dan pepohonan dijadikan sarana ritual dukun.

Pada pasal 302 KUHP Tentang Perlindungan Hewan yang telah direvisi, kesejahteraan dan keselamatan satwa harus diperhatikan oleh pemilik satwa dan yang diwajibkan mengurusinya. Pasal tersebut dengan jelas mewajibkan pemilik atau pengurus satwa agar memberi makan dan minum yang layak kepada satwa peliharaannya, tidak dengan sengaja menelantarkan satwa peliharaannya, dan tidak dengan sengaja membuat satwa sakit atau terluka ringan hingga menyebabkan kematian. Dalam kasus KBS, jika pengelola KBS melanggar pasal tersebut, maka dapat dituntut dan diancam hukuman penjara 2 – 7 tahun dan denda 5 – 10 juta Rupiah.

Tim Pengelola Sementara untuk perbaikan KBS memang sudah dibentuk. Namun muncul foto dan video yang menunjukkan Melani dengan kondisi memprihatinkan. Apa lagi yang menjadi masalah dalam pengelolaan KBS? Kenapa masih ada satwa KBS yang sengsara? Kabar mengatakan kesengsaraan satwa KBS adalah akibat dari konflik manajemen di KBS. Namun konflik apapun yang terjadi di KBS, kesejahteraan hidup satwa harus tetap menjadi concern utama pengelolanya. Untuk itu kami memohon kepada Bapak Menhut Zulkifli Hasan dan pihak terkait untuk segera menyelamatkan satwa di KBS dan selanjutnya diperlihara sesuai Pasal 302 KUHP Tentang Perlindungan Binatang.

Mari isi petisi ini untuk mendukung Bapak Menhut dan pihak terkait agar segera bertindak menyelamatkan satwa KBS. Mari bersama-sama melindungi para satwa. Bukan hanya karena mereka akan punah, tetapi karena mereka juga makhluk hidup seperti kita yang bisa merasakan sakit dan sengsara. Let’s speak up for those who cannot speak. 

Berita terkait:

Jerapah Mati, Kebun Binatang Surabaya Salah Urus

Jerapah Kebun Binatang Surabaya Akhirnya Mati

Satu Harimau Kebun Binatang Surabaya Mati

Harimau Kebun Binatang Surabaya Diare

Harimau Kurus Kering di Kebun Binatang Surabaya Disorot Australia

Harimau di Kebun Binatang Surabaya Hadapi Euthanasia

Data Terkini Jumlah Harimau Sumatera

Revisi Pasal 302 KUHP Tentang Perlindungan Hewan

Video of Melani oleh Jonathan Latumahina (@tidvrberjalan)

My Dear Friends

Juni 4, 2013 by dianparamita

Saat masalah hidup datang, kita akan tahu siapa teman sejati yang tetap tinggal untuk menemani kita.

Lalu kemarin, saat sedang terpuruk, siapa teman yang meninggalkanku?

Nobody.

Semua datang memelukku, mendengarkanku, menemaniku.

Tak dapat dipercaya. Tuhan menyayangiku lewat mereka. :’)

 

Terima kasih my dear friends. You guys are too good to be true.

Memaknai Rambut di Dove Sisterhood

Mei 15, 2013 by dianparamita

Rambut adalah bagian terpenting dalam kecantikan. Bagaimana jika kita membayangkan ada seorang perempuan dengan kaos dan celana pendek tidak matching, kulit berkeringat, wajah tanpa make-up, dan wajah bete nggak punya duit? Pasti tidak menarik. Tapi jika rambutnya rapi, mengembang indah, terlihat mudah diatur, dan bersih, dia akan tetap terlihat menarik. Pasti. Sebaliknya, jika ada seorang perempuan dengan baju pesta cantik, kulit bersih, make-up menawan, wajah ceria, tapi rambut lepek dan terlihat kotor, pasti level menariknya turun 5 point dari 10 point. Sebagian besar perempuan sudah memahami ini sehingga mereka banyak menghabiskan uangnya untuk ke salon, merawat rambutnya atau sekedar cuci blow agar rapi dan indah. Maklumilah. :D

Namun kadang perempuan ingin melakukan hal-hal yang instant. Ingin rambutnya beda, lalu diluruskan atau diwarnai. Ingin rambutnya rapi, di-blow atau dicatok. Ingin rambutnya sehat, tapi malas merawatnya lalu hanya memakai conditioner. Perawatan dan penataan rambut yang instant tentu saja memiliki efek samping, yaitu kerusakan rambut. Pengennya jadi indah, tapi malah merusak. Kan ironis.

Minggu 5 Mei 2013 kemarin Dove dan Majalah Cosmopolitan mengadakan acara Dove Sisterhood di Jogja. Banyak perempuan dari berbagai kalangan diundang untuk hadir merayakan kepedulian kita terhadap rambut. Selain informasi tentang rambut dan perawatannya, acara ini juga memberi inspirasi dari 2 pembicara sukses yaitu Nonita Respati dan Ayu Dyah Pasha. Sebelum acara dimulai, para peserta dan tamu undangan dipersilahkan mencoba hair checkHair check ini untuk menilai bagaimana kualitas rambut kita, apakah sehat, rusak, atau mengkhawatirkan. Hasilnya? Banyak yang kaget karena ternyata rambutnya rusak. Hehehe.

 

Baca Selengkapnya…

« Previous Entries